• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 20 April, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Pranikah

Perspektif Menikah dari Berbagai Negara

23/09/2024
in Pranikah, Unggulan
Labelling terhadap Pasangan termasuk KDRT

(foto: pixabay)

117
SHARES
900
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

ChanelMuslim.com – Perspektif menikah dari sudut pandang warga negara lain dengan latar belakang budaya yang berbeda dari Indonesia diceritakan dengan menarik oleh Ketua Hikari Parenting School Hifizah Nur, S.Psi., M.Ed.

Dalam suatu sesi diskusi di kelas, sensei memberi kami tema tentang “Bila pernikahan tidak disetujui ortu, apakah akan tetap menikah meskipun tidak melibatkan mereka?”.

Topik ini lumayan mendapatkan perhatian dari teman-teman sekelas yang selalu bosan mengikuti kelas percakapan di siang yang melelahkan.

Tema kali ini sangat menarik dan cocok untuk anak muda. Apalagi di antara teman-teman sekelas yang bertiga belas orang orang itu, hanya saya sendiri yang sudah menikah, alias lebih senior dari yang lain.

Baca Juga: 12 Pertimbangan untuk Menikah

Perspektif Menikah dari Berbagai Negara

Awalnya, diskusi berjalan biasa, setiap orang mengungkapkan pendapatnya. Ada yang memilih tetap melakukan pernikahan, ada juga yang mengungkapkan dengan pasti bahwa ortunya tidak akan menentang pernikahannya.

Saya sendiri yang menikah dengan smooth meskipun tanpa proses pacaran mengungkapkan orang tua saya ok-ok saja ketika saya menikah, jadi, lancar seperti jalan tol.

Selanjutnya, diskusi semakin menjauh dari tema inti.

Teman-teman yang kebanyakan masih berusia di awal 20-an mengungkapkan bahwa mereka suatu saat ingin menikah, tapi sekarang masih ingin memuaskan keinginan-keinginan pribadi, seperti bekerja, mengumpulkan banyak uang dan pergi ke tempat-tempat terkenal di dunia.

Karena itulah mungkin, usia pernikahan semakin lama semakin menua. Di Jepang saja rata-rata usia pernikahan kira-kiar 29 tahun untuk perempuan dan 35 tahun untuk laki-laki.

“Kalau menikah, pasti akan sulit melakukan hal-hal yang menyenangkan,” kata seorang teman.

Teman laki-laki, yang mendengar itu langsung menukas, “Kenapa? Saya tidak keberatan kalau istri saya kelak punya keinginan untuk bersenang-senang sendiri”.

Teman perempuan saya yang lain mengungkapkan, ”Saya tidak percaya kalau ada laki-laki yang mau memberi kebebasan kepada isterinya seperti itu.”

Wah, diskusi mulai memanas nih, dua pola pikir yang berbeda, dari barat dan dari timur. Yang satu menganut kebebasan, satu lagi sangat paham tentang aturan-aturan rumah tangga yang biasa ada di dunia timur.

Baca Juga: Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan Karya Salim A Fillah

Pernikahan seharusnya menjadikan Manusia Lebih Baik

“Buktinya, teman kita ini punya pikiran seperti itu,” ujar saya sambil menunjuk teman laki-laki yang tadi bicara.

“Bagi saya, pernikahan itu sesuatu yang mengikat, tidak bisa bebas, makanya saya tidak ingin menikah,” ujar teman dari Kanada yang berdarah Taiwan.

Selanjutnya, teman laki-laki yang berasal dari Eropa berkata, “Karena itu, sebelum menikah, kita harus saling mengenal dulu yang lama, bahkan kalau bisa tinggal bersama,” ujarnya.

Wah sudah mulai melenceng nih, seru saya dalam hati.

Lalu saya bilang, “Mungkin, pola pikir kita beda, tapi saya sendiri, tanpa melewati proses hidup bersama sebelum menikah pun, sampai saat ini, pernikahan saya lancar-lancar saja. Tidak ada masalah-masalah besar.”

Teman dari Kanada bertanya kepada sensei: “Sensei, apakah sensesi setelah menikah tidak mendapat masalah dengan suami sensei?”

Kata sensei, “Tentu saja ada, suami saya orang yang sangat memelihara kebersihan, saya pun juga sama, tapi suami saya sangat kibishii dalam hal ini.

Di awal-awal setelah menikah, meskipun saya sudah membersihkan rumah, tetapi suami saya selalu mengeceknya lagi dan mengkritik hasil kerja saya yang bagi dia kurang bersih. Tetapi setelah berjalan setahun, masing-masing pihak sudah bisa saling beradaptasi,” ujar sensei sambil tersenyum.

Karena sensei tahu, hanya saya yang sudah menikah di kelas itu, sensei bertanya pada saya.

”Kalau Vivi san sendiri, sesudah menikah, bagaimana rasanya? Apakah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk?” tanya sensei.

“Saya rasa, saya menjadi lebih baik dari sebelumnya,” kata saya.

“Misalnya, sebelum menikah, saya orang yang keras kepala, kurang peduli dengan orang lain. Tapi setelah menikah, saya bisa jadi lebih memahami orang lain. Dan sekarang jadi mempertimbangkan keluarga saya dalam mengambil keputusan-keputusan,” tambah saya.

Baca Juga: Para Suami, Ciptakanlah Keharmonisan Pernikahan

Perbincangan Mengenai Perceraian

Perbincangan bergulir ke arah perceraian setelah menikah.

Ternyata, di negara teman laki-laki yang berasal dari Norwegia itu, tingkat perceraian sangat tinggi, mencapai 50%. Berarti, tidak ada hubungan antara mengenal luar dalam lebih dulu sebelum menikah, dengan kelanggengan pernikahan ya.

Lalu, di Jepang pun, angka perceraian meningkat pesat belakangan ini. Begitu juga di Korea, sampai-sampai pemerintah Korea membuat kebijakan untuk membawa kasus perceraian ke pengadilan, untuk mempersulit proses perceraian.

Di Jepang, bila pasangan suami isteri ingin bercerai sangat mudah. Mereka tinggal mengisi kolom perceraian yang diambil di kuyakusho, lalu bercerai begitu saja. Tentu saja, mereka harus membagi harta menjadi dua bagian sesuai kesepakatan mereka.

Akhirnya, saya bilang, ”Sensei, menurut saya, yang sangat penting dalam suatu pernikahan adalah masing-masing pihak harus menyadari kalau mereka sedang mengambil tanggung jawab yang berat. Kalau itu disadari oleh kedua belah pihak, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa.dengan pernikahan itu.”

Sensei ternyata setuju dengan pendapat saya. Saya tidak tahu dengan teman-teman yang lain. Mungkin mereka masih harus menyerap, melihat dan belajar lebih banyak tentang dunia pernikahan.

Dalam Islam sendiri, para pemuda disarankan untuk segera menikah agar bisa tetap manjaga kesucian diri.

Baca Juga: Rahasia 20 Tahun Pernikahan Adrian Maulana

Konsep Pernikahan

Lalu, konsep pernikahan dalam Islam adalah perjanjian yang berat. Suatu tanggung jawab berat, yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Bukan suatu hal yang main-main.

Bagi saya, pernikahan adalah suatu proses dan juga suatu sarana yang bisa menjadikan saya lebih baik dari waktu ke waktu.

Pernikahan juga membuat saya bisa menjalani hidup ini dengan tenang, karena memiliki tempat berbagi, tempat mencurahkan kasih sayang, dan tempat memperkaya batin saya dengan pelajaran memaafkan.

Ya, memaafkan. Bagi diri saya sendiri yang masih sangat tidak sempurna menjadi ibu dan isteri yang baik di keluarga saya. Bagi anak-anak saya yang masih harus mengenal a ba ta tsa kehidupan.

Dan bagi suami saya yang masih belajar menjadi pemimpin dalam menjalankan bahtera rumah tangga ini, agar semua penumpang selamat sampai ke tujuan. Meraih keabadian syurga di akhirat kelak. Semoga.[ind]

Tags: hifizah nurhikari parenting schoolpernikahan di berbagai negarapernikahan diniperspektif menikah dari berbagai negara
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Berempati dengan Keprihatinan

Next Post

BPKH Serahkan Bantuan Armada Niaga untuk Pemberdayaan Desa Berkelanjutan di Yayasan Cendekia Mandiri Utama

Next Post
BPKH Serahkan Bantuan Armada Niaga untuk Pemberdayaan Desa Berkelanjutan di Yayasan Cendekia Mandiri Utama

BPKH Serahkan Bantuan Armada Niaga untuk Pemberdayaan Desa Berkelanjutan di Yayasan Cendekia Mandiri Utama

Wardah Youth Ambassador Memiliki Nama Awal Wardah Beauty Agent pada Tahun 2014

Wardah Youth Ambassador Memiliki Nama Awal Wardah Beauty Agent pada Tahun 2014

24 Anak Gugur Dalam Serangan Udara Israel di Lebanon

24 Anak Gugur Dalam Serangan Udara Israel di Lebanon

  • Persiapan Menghadapi Akhir Zaman, Kenali Keutamaan Surat Al-Kahfi

    Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4223 shares
    Share 1689 Tweet 1056
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8234 shares
    Share 3294 Tweet 2059
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11264 shares
    Share 4506 Tweet 2816
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3688 shares
    Share 1475 Tweet 922
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2058 shares
    Share 823 Tweet 515
  • Keutamaan Doa Rodhitu Billahi Robba

    3299 shares
    Share 1320 Tweet 825
  • Hari Kartini, Mengenal 4 Pahlawan Berhijab asal Indonesia

    778 shares
    Share 311 Tweet 195
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    754 shares
    Share 302 Tweet 189
  • Menghina Allah dalam Hati

    449 shares
    Share 180 Tweet 112
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4545 shares
    Share 1818 Tweet 1136
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga