ENAM kewajiban umat terhadap Islam, ditulis oleh: Iman Santoso, Lc. Dalam sebuah khutbah Jumat, syaikh Muhammad Said Bakr salah seorang ulama keturunan Palestina dan Wakil Ketua Persatuan Ulama Palestina menyampaikan enam kewajiban umat Islam terhadap ajaran Islam.
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).” [Surat Fushilat: 33]
Nikmat terbesar bagi umat manusia adalah nikmat Islam, dengan nikmat ini umat muslim mengetahui jalan yang lurus (shirathal mustaqim) dalam kehidupannya di dunia, dan in sya Allah akan selamat melewati shirath (jalan melalui jembatan) di akhirat di mana di bawahnya adalah api neraka.
Sayang, tidak seluruh umat manusia mengimani ajaran Islam, bahkan hanya sedikit saja yang mengimaninya. Dari 8 milyar penduduk dunia, hanya sekitar 2 milyar yang muslim. Muslim yang taat pada Allah dan Rasul-Nya inilah orang yang paling mendapatkan nikmat Allah, mereka akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih di surga.
“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang orang salih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. [Surat An-Nisa’: 69]
Dalam sebuah khutbah Jumat, syaikh Muhammad Said Bakr salah seorang ulama keturunan Palestina dan Wakil Ketua Persatuan Ulama Palestina menyampaikan enam kewajiban umat Islam terhadap ajaran Islam.
Baca juga: Kewajiban dalam Menjaga Lisan
Enam Kewajiban Umat terhadap Islam
1. Memeluk Islam
Kewajiban ini sejatinya merupakan kewajiban bagi seluruh umat manusia, yaitu beriman dan menerima Islam sebagai agama, karena Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh umat manusia melalui para nabinya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya agama yang diakui di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)
Kita menyaksikan di antara hikmah perang Tufanul Aqsa Gaza, banyak umat manusia simpati pada keteguhan dan perjuangan umat Islam Gaza Palestina dan berbondong-bondong lebih banyak lagi yang masuk Islam.
2. Mempelajari Ajaran Islam
Setelah memeluk Islam, kewajiban berikutnya adalah mempelajarinya. Sahabat Abu Darda ra berkata:
قال أبو الدرداء رضي الله عنه: «كن عالما، أو متعلما، أو محبا، أو متبعا، ولا تكن الخامس فتهلك
“Jadilah engkau orang yang berilmu, atau belajar ilmu, atau pecinta ilmu atau pengikut ilmu dan jangan engkau menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa”. (Kitab Al-Jami li bayanil ilmi wa fadhlihi)
Berdasarkan riwayat ini, maka manusia terkait ilmu ada empat golongan:
– ‘Alim (orang berilmu) terhadap agama Islam.
– Muta‘allim (orang yang belajar)
– Muhibban (orang yang mencintai ilmu).
– Muttabi‘an (pengikut)
Dan beliau memperingatkan: “Jangan menjadi golongan kelima (yang tidak termasuk semua itu), maka engkau akan binasa.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
3. Mengamalkan Ajaran Islam
Ilmu tanpa amal tidak akan sempurna, bahkan mendapat teguran dari Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Dalam kehidupan sehari-hari, ada amalan harian yang harus menjadi bekal setiap muslim, shalat lima waktu berjamaah; shalat Sunnah; tilawah harian; dzikir harian dll.
Amal-amal dalam Islam ruang lingkupnya sangat luas, semua itu diperlukan ilmu dan keahlian. Sehingga amal kita sampai ke tingkat ihsan.
4. Mendakwahkan Islam
Diriwayatkan bahwa seorang bernama Habib An-Najjar bersemangat dalam dakwah, berjalan dari ujung kota mengajak manusia untuk mengikuti ajaran para Rasul, semangat dakwahnya diabadikan Al-Qur’an surat Yasiin:
“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas ia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.” [Surat Ya-Sin: 20]
Dakwah ini adalah rahasia kebangkitan umat Islam, dan dakwah tidak dapat dilaksanakan secara optimal oleh perorangan, bahkan kelompok. Dakwah harus dilaksanakan oleh umat Islam secara berjamaah atau amal jamai. Setiap muslim harus melakukan harokah (gerakan) dakwah agar mendapat berkah .
5. Bangga terhadap Islam
Diriwayatkan pada saat melihat keingkaran kaumnya, dan ada upaya pembunuhan terhadap nabi Isa as, maka beliau mengajak pengikut setianya untuk menjadi membela agama Allah:
“Maka ketika Isa merasakan kengingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Ḥawāriyyūn (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim”. [Surat Ali ‘Imran: 52]
Keislaman nabi Isa as dan pengikut setianya diabadikan dalam Al-Qur’an. Dan itu merupakan pernyataan kebanggaan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.”
6. Membela dan Memperjuangkan Islam
Tidak cukup hanya menjadi pribadi yang shalih, tetapi harus menjadi muslih (melakukan perbaikan terhadap orang lain). Membela Islam dari para pembenci dan musuhnya:
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.” (QS. Al-Hajj: 78)
Membela dan memperjuangkan Islam dalam kehidupan suatu keniscayaan bagi setiap muslim. Karena kaum Kuffar berupaya menjauhkan umat Islam jauh dari Islam, bahkan citranya dirusak dan berupaya dipadamkan dari kehidupan, namun cahaya Allah akan terus bersinar. Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan muluṭ (ucapan – ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai” [Surat At-Taubah: 32].[ind]





