TAK ada yang Bim Salabim atau berubah secara instan. Butuh proses, butuh waktu, dan butuh kesabaran.
Citra teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah tumbuh sejak kecil. Meski masih anak-anak, Nabi tak pernah berbohong. Tak pernah kikir. Tak pernah khianat dengan teman, dan selalu amanah dengan siapa pun.
Begitu pun ketika menjadi remaja dan pemuda. Nabi dikenal seantero Mekah sebagai sosok yang al-Amin: yang bisa dipercaya.
Sejak kecil Nabi mencari nafkah dengan menggembala. Tak ada ayah dan tak ada ibu. Nabi tinggal bersama kakek, dan kemudian paman. Nabi hidup dalam keprihatinan.
Nabi meneruskan nafkah melalui berdagang. Persis seperti yang dilakukan umumnya pemuda di Mekah. Berdagang bukan di toko atau depan rumah. Tapi di negeri orang.
Nabi juga menikah dan dikaruniai anak. Hingga, Allah mengutusnya sebagai Nabi dan Rasul di usia empat puluh.
Sepanjang perjalanan misi Nabi dan Rasul selama 23 tahun, segalanya bergerak begitu cepat melalui sosok Nabi. Mulai membangun kepercayaan umat dari nol, serangan dari musuh yang tak pernah henti, hijrah ke negeri orang, peperangan yang nyaris terjadi di tiap bulan, dan seterusnya.
Umat yang mengikuti Nabi pun tidak sim salabim besar dan banyak. Dimulai dari hanya bilangan jari di tangan, hingga kurang lebih 150 ribu orang saat terakhir kali beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjumpai umatnya di Haji Wada, sekitar 3 bulan sebelum wafat.
Padahal, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam seorang Nabi dan Rasul. Beliau menunaikan tugas dari Yang Maha Kuasa dan Berkehendak: Allah subhanahu wata’ala.
Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka, jadilah (sesuatu) itu. (QS. Yasin: 82)
Namun begitu, Allah seperti memberikan pelajaran kepada kita bahwa dalam hidup ini perlu proses. Dan di balik proses itu, ada seribu satu hikmah yang begitu besar.
**
Tak ada yang instan dalam hidup ini. Begitu pun dengan harapan, cita-cita, dan tujuan yang ingin kita raih. Semua harus dilakoni dengan proses yang melelahkan.
Bersabarlah dalam guliran waktu yang melelahkan dan membosankan itu. Ikhlaskan niat dan tetaplah dalam pijakan yang diajarkan Islam. Insya Allah, tak ada yang sia-sia di semua fase yang kita lalui. [Mh]




