PEMIMPIN itu pelayan dari orang-orang yang dipimpinnya. Ia bukan sekadar ‘di depan’, tapi juga bersama yang dipimpinnya.
Ada seorang sahabat Nabi yang begitu mulia. Ia seorang pemimpin suku Khazraj di Madinah. Ia selalu mengayomi mereka. Ia adalah Saad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu.
Ada dua Saad di Madinah yang dua-duanya kepala suku: Aus dan Khazrah. Kepala suku Aus adalah Saad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu. Dan kepala suku Khazraj adalah Saad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu.
Saad bin Ubadah tergolong sahabat Nabi yang senior karena masuk Islam sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Ia bersama hampir 80 tokoh Madinah menyatakan diri mendukung dakwah Nabi saat mereka berkunjung ke Mekah.
Hal yang menonjol dari Saad bin Ubadah adalah pengayomannya kepada sukunya. Ia kerap berdiri di benteng Khazraj dan berteriak, “Siapa yang kelaparan, silakan datang ke Saad untuk menerima daging dan air minum.” Air minum di Arab merupakan barang mewah.
Dan ketika ia masuk Islam, seluruh berhala di suku Khazraj ia hancurkan sama sekali. Saad juga begitu tegas dengan orang-orang Yahudi di Madinah.
Ia pernah mendesak orang-orang Yahudi untuk masuk Islam. “Kalian dahulu pernah menceritakan kepada kami tentang akan datangnya seorang Nabi. Kalian lebih tahu dari kami. Kenapa kalian tidak mengikuti Nabi yang kalian tunggu itu!” seperti itu kira-kira ucapan Saad kepada tokoh-tokoh Yahudi.
Ada yang menarik dari sifat pengayoman Saad terhadap sukunya. Hal ini terjadi karena tokoh munafik di Madinah, Ibnu Salul, merupakan bagian dari suku Khazraj.
Tentang Ibnu Salul, Saad bin Ubadah pernah mengatakan kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, aku mohon agar engkau memberikan perlakuan yang baik kepadanya. Karena kami dahulu pernah akan menyiapkan mahkota sebelum engkau datang.
Salah satu orang yang ikut turun ke liang lahat Ibnu Salul adalah Saad bin Ubadah. Hal ini karena bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat yang ia pimpin. Meskipun, orang itu buruk.
Tentang jihad, Saad hampir tak pernah luput dalam jihad bersama Rasulullah. Semua jihad yang dipimpin Nabi, ia selalu ikut. Ia memang mahir dalam memanah dan berenang.
Suatu kali, ketika ia sedang ikut dalam peperangan bersama Nabi, ibunya wafat. Sepulangnya dari jihad, Saad bertanya kepada Rasulullah.
“Ya Rasulullah, apakah jika aku menyedekahkan hartaku yang kuniatkan untuk ibuku yang wafat akan menjadi kebaikan untuknya?” tanya Saad.
Rasulullah membenarkannya. Rasulullah menyarankan agar Saad menyedekahkan sesuatu yang dibutuhkan orang banyak. Maka ia menyedekahkan tanah luas dan sumur yang airnya dibutuhkan orang banyak.
**
Menjadi pemimpin itu tak mudah. Ia harus selalu mengayomi semua orang, termasuk yang buruk. Karena sifat buruk adalah tanggung jawab orang itu kepada Allah, sementara pengayoman merupakan tanggung jawab sang pemimpin kepada rakyatnya.
Jadilah pemimpin yang dihormati karena kebaikannya. Bukan sebagai pemimpin yang ditakuti karena egonya. Sekali pun hanya kepemimpinan di rumah tangga kita. [Mh]


