MAKAN dan minum merupakan kebutuhan manusia yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tubuh membutuhkan makanan sebagai sumber energi dan minuman untuk menjaga keseimbangan cairan. Namun, Islam mengajarkan agar setiap kebutuhan tersebut dipenuhi dengan cara yang wajar, tidak berlebihan, dan tidak menjadikan kenikmatan sebagai alasan untuk melampaui batas.
Baca Juga: Asma Binti Salamah Perempuan Tangguh yang Menyertai Hijrah ke Negeri Habasyah
Jangan Berlebihan Karena Allah Tidak Menyukai Sikap Berlebih-lebihan
Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Ayat ini mengandung pesan sederhana, tetapi sangat dalam. Allah tidak melarang manusia menikmati makanan dan minuman yang halal. Sebaliknya, manusia dipersilakan menikmati berbagai rezeki yang telah diberikan. Hanya saja, ada batas yang perlu diperhatikan. Kenikmatan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur, bukan kehilangan kendali.
Berlebihan dalam makan dan minum bukan hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh. Sikap berlebihan juga dapat muncul ketika seseorang terus mengejar sesuatu meskipun sebenarnya sudah merasa cukup. Misalnya, membeli makanan terlalu banyak hingga terbuang, makan hanya karena mengikuti keinginan, atau menjadikan makanan sebagai pelarian ketika sedang merasa bosan.
Kebiasaan seperti ini sering kali dianggap sepele. Padahal, belajar menahan diri merupakan bagian dari latihan mengendalikan hawa nafsu. Tidak semua yang kita inginkan harus segera dipenuhi. Terkadang, kemampuan untuk mengatakan “cukup” justru menjadi bentuk rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki.
Pesan tersebut juga berkaitan dengan kehidupan secara lebih luas. Sikap berlebihan tidak hanya terjadi dalam urusan makanan. Seseorang bisa berlebihan dalam berbicara, berbelanja, bekerja, menggunakan waktu, bahkan mengejar kesenangan. Ketika sesuatu dilakukan tanpa pertimbangan dan melewati batas kewajaran, manfaatnya dapat berubah menjadi mudarat.
Karena itu, keseimbangan menjadi sesuatu yang penting. Makan secukupnya, memilih makanan dengan bijak, menghargai rezeki, serta tidak membuang-buang apa yang telah diberikan merupakan kebiasaan baik yang patut dibangun. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga tubuh, tetapi juga belajar mendidik hati agar tidak selalu mengikuti keinginan.
Hidup sederhana bukan berarti menolak kenikmatan. Hidup sederhana berarti mampu menikmati sesuatu tanpa diperbudak olehnya. Ada saatnya kita menikmati makanan kesukaan, tetapi ada pula saatnya kita berhenti karena tubuh sudah merasa cukup.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, pesan QS. Al-A’raf ayat 31 mengajak kita untuk mengenal batas. Sebab, tidak semua yang bisa kita miliki harus dihabiskan, dan tidak semua keinginan harus dituruti. Ketika mampu merasa cukup, kita belajar bersyukur. Ketika mampu menahan diri, kita belajar mengendalikan hawa nafsu. Dan ketika mampu menghindari sikap berlebihan, kita sedang berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah.
Sumber: dr.Zaidul Akbar



