TIDAK semua nama sahabat Rasulullah dikenal luas oleh umat Islam hingga sekarang. Sebagian di antara mereka justru hidup dalam catatan sejarah dengan kisah yang singkat, tetapi menyimpan pelajaran besar. Salah satunya adalah Asma binti Salamah radhiyallahu ‘anha, seorang perempuan dari Bani Tamim yang termasuk dalam golongan Muslimah generasi awal.
Dalam sejumlah sumber sejarah, namanya disebut sebagai Asma binti Salamah bin Makhramah bin Jandal bin Abir bin Nahsyal bin Darim at-Tamimiyah ad-Darimiyah. Ia juga dikenal dengan kunyah Ummu al-Julas. Para ahli sejarah mencatat bahwa Asma telah memeluk Islam di Makkah pada masa awal dakwah Rasulullah. Ia kemudian menikah dengan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi, salah seorang sahabat yang juga termasuk generasi awal kaum Muslimin.
Baca Juga: Laila Binti Abi Hatsmah Sang Perintis Hijrah di Jalan Allah
Asma Binti Salamah Perempuan Tangguh yang Menyertai Hijrah ke Negeri Habasyah
Perjalanan hidup Asma tidak berhenti pada keislamannya di Makkah. Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap orang-orang beriman semakin berat, Asma bersama suaminya ikut berhijrah menuju Habasyah. Hijrah tersebut bukan perjalanan yang ringan. Mereka harus meninggalkan tanah kelahiran dan kehidupan yang telah dikenal demi mempertahankan keyakinan kepada Allah.
Di negeri Habasyah itulah Asma melahirkan putranya, Abdullah bin ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Setelah beberapa waktu, perjalanan hidupnya berlanjut dengan hijrah menuju Madinah. Catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa Asma kemudian menetap di Madinah sebagai salah seorang perempuan Muhajirah.
Menariknya, Asma juga tercatat sebagai salah seorang perempuan yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Putranya, Abdullah bin ‘Ayyasy, termasuk orang yang meriwayatkan darinya. Hal ini menunjukkan bahwa peran Asma tidak hanya berkaitan dengan perjalanan hijrah dan kehidupan keluarga. Ia juga menjadi bagian dari mata rantai penyampaian ilmu pada generasi setelah Rasulullah.
Salah satu kisah yang dinisbatkan kepadanya terjadi ketika Rasulullah berkunjung ke rumah keluarga Abu Rabi’ah. Dalam kesempatan tersebut, Asma meminta nasihat secara langsung kepada beliau. Rasulullah kemudian memberikan nasihat agar ia memperlakukan saudara perempuannya dengan kebaikan dan memberikan sesuatu yang ia sendiri senang jika mendapatkannya. Nasihat sederhana itu memperlihatkan pentingnya hubungan baik dan sikap saling memberi dalam keluarga.
Kisah Asma binti Salamah mungkin tidak sepanjang cerita para sahabiyah yang lebih populer. Namun, perjalanan hidupnya memperlihatkan keberanian seorang Muslimah pada masa awal Islam. Ia berani meninggalkan Makkah, menempuh hijrah ke Habasyah, menjalani kehidupan sebagai ibu dan istri, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dari sosok Asma, kita dapat belajar bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk peperangan atau peristiwa besar. Kadang perjuangan terlihat dari keberanian meninggalkan kenyamanan, menjaga iman ketika keadaan sulit, mendidik keluarga, dan menyampaikan ilmu kepada orang lain. Nama Asma binti Salamah menjadi salah satu pengingat bahwa banyak perempuan di generasi pertama Islam memiliki kontribusi penting dalam perjalanan sejarah umat. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





