UBAY bin Khalaf dan Uqbah bin Abi Mu’aith adalah teman dekat. Setiap kali Uqbah kembali dari perjalanan, ia menyiapkan makanan dan mengundang para bangsawan Quraisy. Ia sering duduk bersama Nabi saw.
Suatu ketika, setelah kembali dari perjalanan, ia menyiapkan makanan dan mengundang orang-orang, termasuk Nabi saw.
Ketika makanan disajikan, Nabi saw bersabda kepadanya, “Aku tidak akan memakan makananmu sampai kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah.”
Uqbah menjawab, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”
Kemudian Nabi saw memakan makanannya. Ubay bin Khalaf saat itu sedang keluar. Ketika ia kembali dan diberitahu tentang apa yang telah terjadi, ia pergi menemui Uqbah dan berkata kepadanya, “Apakah engkau telah masuk Islam, Uqbah?”
Uqbah menjawab, “Demi Allah, aku belum masuk Islam. Tetapi seorang laki-laki datang kepadaku dan menolak untuk makan makananku sampai aku bersaksi untuknya. Maka aku bersaksi, dan aku merasa malu karena ia meninggalkan rumahku tanpa makan.”
Ubay berkata kepadanya, “Aku tidak ridha denganmu sampai kamu pergi kepadanya dan meludahi wajahnya.” Maka Uqbah melakukan itu, semoga Allah menghinakannya.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Jika aku bertemu denganmu di luar Mekah, aku akan membunuhmu dengan pedangku!”
Baca Juga: Aturan Allah adalah Bentuk Kasih Sayang untuk Hamba-Nya
Inilah Bahayanya Punya Teman yang Tidak Baik
Pada hari Perang Badar, Uqbah ditawan dan dibunuh, tidak seperti tawanan lainnya, karena apa yang telah dilakukannya dan sebagai pemenuhan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Adapun Ubay bin Khalaf, Nabi saw membunuhnya pada hari Perang Uhud. Dan mengenai mereka, Allah Yang Maha Kuasa menurunkan firman-Nya:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّا لِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul.” (QS. Al-Furqan; 27)
Pelajaran Pertama:
Dunia ini selalu berubah, jadi jangan tertipu. Yang kuat tidak akan tetap kuat selamanya, dan yang lemah tidak akan tetap lemah selamanya. Segala sesuatu di dunia ini diwariskan kepada manusia.
Tanyakan pada diri sendiri: Di manakah kerajaan-kerajaan dan imperium yang pernah memerintah dunia?
Yang tersisa dari Romawi hanyalah reruntuhan yang berserakan, dan di manakah api orang-orang Majusi yang menyala selama berabad-abad? Api itu akhirnya padam, dan kaisar-kaisar Sassanid lenyap, hanya menjadi satu halaman dalam sejarah.
Lalu apa yang tersisa dari kerajaan Firaun di Mesir selain piramida dan batu, satu-satunya bukti bahwa mereka pernah ada di sana?
Dan di manakah peradaban besar Andalusia yang pernah menguasai dunia? Apa yang tersisa darinya selain peninggalan mereka?
Jika demikian keadaan bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan, lalu bagaimana keadaan umat manusia?
Di manakah Firaun, yang mengaku, “Akulah tuhanmu yang tertinggi”?
Di manakah Namrud, yang mengaku bisa menghidupkan dan mematikan?
Di manakah Qarun, pemilik emas, kekayaan yang melimpah, dan harta karun? Dan di manakah Dzul-Qarnain, yang menjelajahi bumi dari timur ke barat?
Di manakah Harun al-Rasyid, yang pernah berbicara kepada awan di langit, “Turunkanlah hujan di mana pun kalian kehendaki, karena upeti kalian akan kembali kepadaku”?
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Di manakah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali? Di manakah para nabi dan orang-orang saleh sepanjang sejarah?
Mereka semua telah wafat, dan hanya amal perbuatan mereka yang tersisa di sisi Allah Yang Maha Kuasa.
Hanya beberapa tahun yang memisahkan gangguan yang ditimpakan kepada Nabi saw oleh Ubay bin Khalaf dan Uqbah bin Abi Mu’aith. Kemudian situasinya berubah, dan keseimbangan kekuasaan bergeser. Mereka dibunuh sebagai pembalasan yang adil dan hukuman yang pantas. Setelah itu orang yang mereka tindas memasuki Mekah sebagai penakluk. [DW]
Pemateri: Ustadz Aunur Rafiq Shaleh





