RENCANA pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di wilayah Gunung Bromo tengah diperbincangkan.
Hal tersebut dinilai jadi upaya pemerintah untuk mendorong pengembangan kawasan wisata unggulan di Jawa Timur ini.
Melalui akun Instagram resmi @bbtnbromotenggersemeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjelaskan alasan pembangunan JLKT.
JLKT digadang-gadang menjadi solusi pengendalian wisata massal, sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya masyarakat Tengger.
Jalur ini disebut dibuat dengan penataan jalan yang sudah ada agar lebih terarah, tanpa membangun jalur baru.
JLKT dirancang sepanjang 13 kilometer dengan lebar 18 meter dan akan dilengkapi dengan tiga titik rest area, empat titik kantong parkir, 9.725 patok dengan stiker reflektor untuk meningkatkan visibilitas pada malam hari, dan 17 area sakral.
Baca juga: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ditutup untuk Pulihkan Ekosistem Kawasan Konservasi
Rencana Pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger Gunung Bromo
Penataan ini dilakukan menyusul tingginya aktivitas wisata di wilayah Gunung Bromo, tapi tidak didukung oleh jalur kendaraan wisata yang masih belum sepenuhnya tertata dalam satu arah yang jelas.
Hal tersebut memicu jalur-jalur yang tidak terarah dan dapat berdampak pada sabana, habitat alami, dan kondisi tanah di beberapa titik.
Lewat penataan JLKT, pihak TNBTS berharap dapat menertibkan pergerakan wisata di Bromo, sekaligus menjaga kenyamanan pengunjung tanpa meninggalkan nilai budaya Tengger.
Pembangunan JLKT resmi dimulai oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi pada Senin (13/4/2026). Adapun anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 11,1 miliar dengan waktu pelaksanaan selama 210 hari kalender.
Groundbreaking dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta Forkopimda dari Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pembangunan JLKT tidak sekadar infrastruktur, tapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan ekonomi.
Peningkatan lama tinggal wisatawan (length of stay) di kawasan Bromo menjadi dua malam. Hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang, mulai dari tiga rest area lengkap dengan restroom, empat titik parkir untuk spot foto wisatawan, hingga dua sumber air baru di Widodaren dan Jontur dengan kapasitas masing-masing 12.000 liter.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan, JLKT dirancang sebagai instrumen pengendalian mobilitas wisatawan di tengah meningkatnya tekanan pariwisata massal.
Proyek ini telah melalui tahapan panjang sejak 2016, mulai dari kajian biofisik, daya dukung lingkungan, hingga desain teknis berbasis budaya lokal. Pembangunan ditargetkan rampung pada Oktober 2026. [Din]



