AL Bara’ bin Malik Al Anshary merupakan pejuang Islam yang sangat gagah dan sangat pemberani. Ia memiliki rambut yang berantakan, badannya kurus, tulangnya kecil tetapi ia sangat gesit dan sulit dilihat.
Dia adalah orang yang gagah berani dan pantang mundur, demikian tulis Umar dalam sebuah surat yang beliau tujukan untuk para pembantunya, “Janganlah ia ditunjuk sebagai pimpinan kaum muslimin karena khawatir mereka semua terbunuh karena maju terus.”
Al Bara’ bin Malik Al Anshary merupakan saudara Anas bin Malik yang merupakan pembantu dari Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam.
Baca Juga: Pelajaran Cinta dari Para Nabi dan Sahabat
Al-Bara’ bin Malik Al Anshary, Pejuang Islam yang Doanya Mustajab
Kisah ini dimulai ketika wafatnya Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam, saat beberapa kabilah Arab keluar dari agama Allah secara berbondong, seperti saat mereka masuk ke agama Allah secara berbondong.
Sehingga yang tersisa hanyalah penduduk Makkah, Madinah, Thaif dan beberapa kelompok di sana sini yang Allah tetapkan hatinya untuk terus beriman.
Abu Bakar As Shiddiq tetap tegar menghadapi fitnah yang merebak ini. Ia menyiapkan 11 pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Beliau juga menyiapkan 11 panji yang masing-masing dibawa oleh pasukan tadi. Kaum murtad yang paling kuat dan paling banyak pasukannya adalah Bani Hanifah yang menjadi para pendukung Musailamah Al Kadzab.
Saat itu Musailamah didukung oleh pengikut dan sekutunya yang berjumlah 40 ribu orang pejuang. Musailamah berhasil memukul mundur pasukan pertama kaum muslimin yang dikirimkan kepadanya di bawah komando Ikrimah bin Abi Jahal.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Lalu Abu Bakar mengirimkan pasukan kedua kepada Musailamah di bawah komando Khalid bin Walid di mana pasukan tersebut dipenuhi oleh para tokoh Anshar dan Muhajirin. Salah satu dari mereka adalah Al Bara’ bin Malik Al Anshary dan banyak lagi patriot pemberani dari kaum muslimin.
Kisah paling terkenal tentang kemustajaban doa Al-Bara’ terjadi dalam Perang Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Perang ini merupakan salah satu peperangan paling berat yang pernah dihadapi kaum Muslimin setelah wafatnya Rasulullah. Pasukan Muslim harus menghadapi pengikut Musailamah al-Kadzdzab yang jumlahnya sangat besar dan bertahan di sebuah kebun berbenteng yang dikenal sebagai Hadiqatul Maut atau “Kebun Maut”.
Ketika pasukan Muslim kesulitan menembus pertahanan musuh, Al-Bara berkata kepada rekan-rekannya:
“Lemparkan aku ke dalam benteng mereka.”
Para sahabat awalnya terkejut mendengar permintaan tersebut. Namun Al-Bara tetap bersikeras. Ia kemudian diangkat menggunakan perisai dan dilemparkan melewati tembok benteng. Sendirian di tengah musuh, ia bertempur dengan gagah berani hingga berhasil membuka gerbang benteng dari dalam.
Tindakan heroik itu menjadi titik balik kemenangan pasukan Muslim. Meskipun mengalami banyak luka serius, Al-Bara tetap bertahan hidup setelah pertempuran berakhir. [DW]
Sumber: 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi. Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya. Kaunee: 2008.





