• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, 12 September, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Syariah

Menghina Allah dalam Hati

01/09/2026
in Syariah, Unggulan
Menghina Allah dalam Hati

(foto: pixabay)

623
SHARES
4.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

SAYA merasa sudah menghina Allah dalam lintasan hati. Saya seorang wanita berusia 27th. Saat ini, saya sedang dilanda kegelisahan yang teramat berat bagi saya. Saya menderita penyakit was was.

Beberapa waktu yang lalu, saya merasa sudah menghina Allah Subhanahu wa taala di dalam hati karena alasan tertentu, tapi saya itu lupa, apakah saya menghina Allah atau saya hanya berbicara kotor di dalam hati.

Dan terlintas di fikiran kalau saya murtad. Lalu saya bersyahadat. Tetapi di saat saya bersyahadat itu, rasanya lidah saya kelu dan badan saya gemetar karena saking takutnya jika syahadat saya tidak sah.

Setiap hari, saya ulang-ulang syahadat tetapi setelah saya mengucap syahadat rasanya terlintas lagi fikiran “kamu belum syahadat” jadi itu syahadatnya saya ulang terus menerus sampai saya pusing memikirkan hal tersebut.

Dan sampai sekarang, saya masih merasa bahwa saya belum bersyahadat. Jika saya biarkan atau tidak saya gubris, hati dan pikiran saya tidak tenang karena ini menyangkut agama.

Saya takut jika saya masih belum muslim, jadi saya terus mengingat-ingat apakah saya sudah bersyahadat atau belum.

Saya benar-benar lelah dengan penyakit ini. Sampai saya berfikir apa saya harus berbicara dengan ibu saya agar menjadi saksi saya bersyahadat, Pak Ustaz.

Dan apakah sah syahadat seorang wanita yang sedang haid/tidak menutup aurat dengan sempurna, dan apakah sah jika ibu saya menjadi saksi syahadat tapi beliau haid/tidak menutup aurat dengan sempurna?

Dan apakah saya wajib mengucap dua kalimat syahadat kembali atau cukup dengan syahadat saya yang saya ulang-ulang dari kemarin.

Mohon penjelasannya ya, Pak Ustaz. Semoga Pak Ustaz selalu dilindungi oleh Allah Subhanahu wa taala, amin..(YR- Banyuwangi)

baca juga: Ya Allah Yang Maha Pengasih

Menghina Allah dalam Hati

Ustaz Farid Nu’man Hasan menjawab hal ini sebagai berikut.

Semoga Allah Ta’ala menjaga Anda dan keluarga. Menghina Allah Ta’ala ada beberapa keadaan:

1. Menghina Allah Ta’ala lewat lisan/ucapan secara sadar dan ada maksud

Ini merupakan sebab murtadnya seseorang dari Islam. Baik dia lakukan secara serius atau nada bergurau, tapi dia sadar dan bermaksud, maka pelakunya kafir.

Salah satu ulama Al Azhar, Syaikh Khalid Abdul Mun’im ar Rifa’i menjelaskan:

فقد أجمع أهل السنة على أنه يشترط في القول المكفر قصد قد قصد سواء كان جاداً أو مازحاً فإنه كافرٌ كفراً مخرجاً عن الملة عليه أن يتوب إلى الله عز وجل وسب الدين مازحاً أشد

Ahlussunah telah ijma’ bahwa perkataan yang dapat membuat kafir pelakunya disyaratkan adanya maksud dari pengucapnya baik itu serius atau bergurau, maka pelakunya kafir dan keluar dari millah (Islam).

Wajib baginya bertobat kepada Allah Ta’ala, ada pun menghina agama dengan nada bergurau itu lebih parah lagi. (dikutip dari Mawqi’ Thariqul Islam)

Imam Ibnu ‘Askar mengatakan:

وَمَنْ سَبَّ اللهَ أَوْ نَبِيّاً قُتِلَ دُونَ اسْتِتَابَهٍ، وَالْمُرْتَدُّ يَحْبَطُ عَمَلُهُ.

Siapa yang mencela/memaki Allah atau seorang nabi maka dia dibunuh tanpa dia bertobat. Dia murtad dan terhapus amalnya.

(Irsyad as Saalik Ila Asyraf al Masaalik fi Fiqh al Imam Malik, hlm. 114)

Ada pun bagi yang tidak sadar, atau tidak bermaksud, seperti keceplosan (Zallatul Lisaan atau sabqul lisaan), maka ini tidak dihukumi apa-apa.

Dalam hadis Shahih Muslim, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menceritakan orang yang kehilangan untanya, ketika dia lelah mencarinya sampai putus asa lalu beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba unta itu datang.

Laki-laki itu sangat girang, saking girangnya dia berucap:

اللهم أنت عبدي وأنا ربك، أخطأ من شدة الفرح

Ya Allah, Engkau Hambaku, Aku adalah Tuhanmu. Dia salah karena saking bahagianya. (HR. Muslim no. 2747)

Ucapan laki-laki ini jelas kekufuran, namun karena ini keceplosan, bukan sengaja, maka tidak dinilai apa-apa.

وَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٞ فِيمَآ أَخۡطَأۡتُم بِهِۦ وَلَٰكِن مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوبُكُمۡۚ

Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf (tidak sengaja ) tentang itu, tetapi (yang berdosa) apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. Al Ahzab: 5)

2. Menghina Allah Ta’ala di hati

Untuk jenis ini terbagi menjadi dua bagian lagi:

Pertama, sekadar lintasan hati.

Hinaan yang muncul berupa lintasan hati, tidak menjadi maksud dan keyakinan, maka belum dihukumi apa-apa.

Jika terjadi berulang-ulang maka itu adalah was was yang harus dihilangkan, dan orang yang mengalaminya hendaknya jangan biarkan diombang-ambingkan oleh pikiran-pikiran seperti itu, yakinilah bahwa dirinya masih muslim.

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فسب العبادة أو سب الله تعالى أو سب دينه، إن كان مجرد خاطر وحديث نفس، فلا يؤاخذ به العبد ما لم يتلفظ به، أو يعمل بمقتضاه، أو يستقر في قلبه بحيث يصير اعتقادا لا ينفر منه صاحبه ولا يكرهه

Menghina ibadah atau Allah Ta’ala atau agama jika semata-mata lintasan atau ungkapan jiwa maka belum dinilai apa-apa bagi hamba tersebut (maksudnya: masih muslim) selama belum diucapkan, atau belum melakukan apa-apa yang sesuai ucapannya, atau belum mengikrarkan di hatinya yang membuatnya menjadi sebuah keyakinan.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 132288)

Dalilnya adalah hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

إن الله تَجَاوَزَ عن أمتي ما حَدَّثَتْ به أَنْفُسَهَا، ما لم تَعْمَلْ أو تتكلم

Allah Ta’ala membiarkan yang terjadi pada umatku apa-apa yang masih terlintas dalam jiwanya, selama belum menjadi perkataan atau tindakan. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Kedua. Menghina di hati dengan keyakinan, maksud, dan kesadaran.

Maka ini dihitung kafir, berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas.

Firman Allah Ta’ala:

وَلَٰكِن مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوبُكُمۡۚ

Tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. Al Ahzab: 5)

Jika melihat cerita Saudara penanya, maka Saudara penanya masih kategori kelompok satu, yaitu baru sekadar lintasan dan was was, masih sebagai muslimah.

Maka, tetaplah istiqamah dalam Islam, dan berlindung kepada Allah Ta’ala dari was was. Demikian. Wallahu a’lam.[ind]

 

Tags: Menghina Allah dalam Hati
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Kolagen jadi Protein Penting dalam Struktur dan Elastisitas Kulit

Next Post

5 Objek Wisata Pantai dengan Pemandangan Indah di Jawa Tengah

Next Post
5 Objek Wisata Pantai dengan Pemandangan Indah di Jawa Tengah

5 Objek Wisata Pantai dengan Pemandangan Indah di Jawa Tengah

Bencana dalam Perkara Agama

5 Hal yang Merusak Hati

SD JISc Ukir Prestasi, Terpilih Menjadi Sekolah Model Deep Learning dan AI se-Jakarta

SD JISc Ukir Prestasi, Terpilih Menjadi Sekolah Model Deep Learning dan AI se-Jakarta

  • Cara Sederhana Mengurangi Pahit Buah dan Daun Mengkudu

    Cara Sederhana Mengurangi Pahit Buah dan Daun Mengkudu

    410 shares
    Share 164 Tweet 103
  • Aturan Baru Mendaki Gunung Merbabu bagi Pendaki

    157 shares
    Share 63 Tweet 39
  • 5 Cara Hilangkan Noda Kunyit di Pakaian

    359 shares
    Share 144 Tweet 90
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9301 shares
    Share 3720 Tweet 2325
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
  • Tren Kecantikan Kembali Nuansa Era 2000-an

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Hari Radio Nasional 2026 Mengingat Kembali Suara yang Menjaga Indonesia

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • 5 Style Hijab Tanpa Peniti yang Praktis dan Tetap Modis

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4796 shares
    Share 1918 Tweet 1199
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4218 shares
    Share 1687 Tweet 1055
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga