MENIKAH di usia muda tentu membawa banyak pengalaman baru. Dua orang yang sebelumnya menjalani kehidupan masing-masing kini harus belajar tinggal bersama, memahami kebiasaan pasangan, sekaligus membangun rumah tangga. Tidak semua prosesnya berjalan mulus. Ada kalanya suami merasa istrinya masih bersikap seperti anak kecil, mudah merajuk, emosional, atau belum mampu menghadapi persoalan rumah tangga dengan dewasa.
Dalam kondisi seperti ini, seorang suami hendaknya tidak terburu-buru merasa kecewa atau menganggap istrinya sebagai beban. Pernikahan merupakan proses belajar yang membutuhkan kesabaran dari kedua belah pihak. Jika pasangan masih memiliki kekurangan dalam sikap maupun cara berpikir, tugas suami bukan sekadar menuntut perubahan, tetapi juga membimbingnya dengan cara yang baik.
Baca Juga: Jalan Sederhana Menuju Surga yang Sering Terlupakan
Ketika Suami Belajar Memahami Istri yang Masih Kekanak-kanakan Saat Menikah Muda
Islam mengajarkan bahwa suami memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam keluarga. Kepemimpinan tersebut bukan berarti bebas memerintah atau memperlakukan istri semaunya. Sebaliknya, seorang suami dituntut mampu memberikan arahan, perlindungan, keteladanan, dan kasih sayang kepada keluarganya.
Karena itu, menghadapi istri yang dianggap masih kekanak-kanakan membutuhkan pendekatan yang lembut. Jangan menjadikan kekurangannya sebagai bahan ejekan, apalagi terus mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan. Sikap seperti itu justru dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai dan semakin sulit terbuka.
Suami dapat mengajak istri belajar bersama. Misalnya dengan menghadiri kajian, membaca buku tentang kehidupan rumah tangga, atau berdiskusi mengenai bagaimana menjadi pasangan dan orang tua yang baik. Kegiatan sederhana seperti membaca dan membahas ilmu agama bersama juga dapat menjadi cara untuk memperkuat hubungan sekaligus menambah pemahaman keduanya.
Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan contoh melalui tindakan. Nasihat terkadang sulit diterima jika hanya disampaikan dalam bentuk teguran. Sebaliknya, ketika suami menunjukkan kesabaran, bertanggung jawab, menjaga ucapan, dan memperlakukan istri dengan penuh kasih sayang, pasangan akan memiliki contoh nyata yang dapat diteladani.
Namun, proses mendidik dalam rumah tangga seharusnya tidak berjalan satu arah. Istri pun memiliki tanggung jawab untuk terus belajar menjadi pasangan yang lebih dewasa. Pernikahan yang sehat dibangun melalui kemauan suami dan istri untuk sama-sama memperbaiki diri.
Menikah muda bukan berarti seseorang langsung menjadi sempurna dalam menjalankan peran sebagai suami maupun istri. Keduanya membutuhkan waktu untuk tumbuh bersama. Kesabaran, komunikasi, ilmu, doa, dan keteladanan menjadi bekal penting dalam melewati proses tersebut.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, rumah tangga bukan tempat mencari pasangan yang tanpa kekurangan. Pernikahan adalah perjalanan untuk saling mendampingi, memperbaiki diri, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan kesabaran dan kasih sayang, pasangan yang awalnya belum matang dalam menghadapi kehidupan rumah tangga dapat tumbuh bersama menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. [DW]
Sumber: Ustadzah Herlini Amran, MA




