PENGUATAN tata kelola menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi haji dan umroh yang terintegrasi, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan umat serta perekonomian nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Evaluasi Pelaksanaan Program dan Anggaran Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umroh (Ditjen PE2HU) di Purwokerto, Jumat (17/7/2026).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umroh (PE2HU), Jaenal Effendi, mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umroh tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan ibadah, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan seluruh sektor pendukung ke dalam satu sistem yang saling terhubung.
Dengan demikian, potensi ekonomi yang lahir dari penyelenggaraan haji dan umroh dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ekosistem ekonomi haji dan umroh harus dibangun secara terintegrasi melalui penguatan regulasi, tata kelola, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Dengan demikian, manfaat ekonominya tidak hanya mendukung penyelenggaraan ibadah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan umat.
Baca juga: Kemenhaj Perkuat Transformasi Layanan Kesehatan Haji
Penguatan Tata Kelola jadi Kunci Bangun Ekosistem Ekonomi Haji dan Umroh
Jaenal menjelaskan, pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umroh masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya belum terbangunnya kerangka regulasi yang terintegrasi, koordinasi antar pemangku kepentingan yang belum optimal, serta belum terhubungnya sistem data dan informasi yang mampu mendukung pengelolaan ekosistem secara terpadu.
Kondisi tersebut menyebabkan potensi nilai tambah dan efek berganda (multiplier effect) dari penyelenggaraan haji dan umroh belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Untuk itu, diperlukan penguatan tata kelola melalui harmonisasi regulasi, pemetaan peran dan kewenangan para pemangku kepentingan, sinkronisasi kebijakan, serta penguatan kelembagaan sebagai fondasi pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah.
Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan koordinasi yang lebih efektif sekaligus memperkuat keterhubungan antar sektor dalam satu ekosistem yang utuh.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selain aspek tata kelola, pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umroh juga diarahkan untuk memperkuat keterlibatan berbagai sektor strategis, mulai dari industri halal, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyedia akomodasi dan katering, sektor transportasi dan logistik, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing, memperluas peluang usaha, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta memperbesar manfaat penyelenggaraan haji dan umrah bagi masyarakat.
Melalui penguatan tata kelola yang didukung regulasi yang adaptif, koordinasi yang solid, dan kolaborasi lintas sektor, Ditjen PE2HU optimistis pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umroh dapat berjalan lebih efektif.
Langkah ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi ekonomi haji dan umroh sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [Din]





