TIDAK semua luka pada anak terlihat secara fisik. Banyak kerusakan justru terjadi secara perlahan, lewat suasana rumah, sikap orang tua, dan cara konflik dikelola dalam keluarga.
Hal-hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa, sering kali menjadi beban emosional yang menetap lama dalam diri anak.
Karena itu, lingkungan rumah yang tidak sehat secara emosional dapat menjadi salah satu faktor yang merusak kesehatan mental anak tanpa disadari.
Salah satu contohnya adalah kebiasaan orang tua yang sering bertengkar di depan anak.
Ayah Bunda, anak-anak mungkin tidak selalu memahami isi pertengkaran yang terjadi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Namun mereka sangat peka terhadap suasana: suara tinggi, suasana dingin, pintu yang dibanting, hingga tatapan penuh amarah.
Semua itu terekam kuat dalam ingatan mereka. Pertengkaran yang terjadi secara berulang dapat membuat anak merasa tidak aman, takut terhadap konsep pernikahan, serta belajar cara yang salah dalam menyelesaikan konflik.
Luka ini bahkan bisa terbawa hingga mereka dewasa.
Dalam pandangan Islam, cara menyelesaikan konflik dalam rumah tangga juga diatur dengan bijak.
Beginilah Cara Cepat Menghancurkan Mental Anak
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 35 yang menganjurkan agar ketika terjadi perselisihan antara suami dan istri, diutus seorang penengah dari kedua belah pihak untuk mendamaikan.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik adalah bagian dari kehidupan, namun harus diselesaikan dengan cara yang bermartabat, bukan dengan emosi yang meledak di hadapan anak.
Baca juga: Pukulan di Pantat Pengaruhi Kesehatan Mental Anak
Islam menekankan bahwa penyelesaian masalah dalam rumah tangga harus mengedepankan ketenangan dan musyawarah, bukan melibatkan anak sebagai saksi apalagi penengah.
Anak seharusnya berada dalam ruang yang memberi rasa aman, bukan dalam situasi penuh tekanan emosional.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan rumah yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan rumah yang memberi rasa tenang, aman, dan stabil untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat secara mental.[Sdz]
Sumber: Fatherman




