RAHMAT atau kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu. Mintalah, karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
Alkisah, ada dua pengemis yang selalu berdua dalam mencari ‘nafkah’. Satu pengemis tergolong soleh, dan satunya lagi biasa saja. Keduanya punya ‘donatur’ langganan, yaitu seorang ibu yang kaya.
Setiap pagi, keduanya sudah menunggu di tempat di mana ibu kaya itu selalu lewat. Setiap sang ibu itu lewat, secara bergantian pengemis itu mengucapkan kalimat belas kasihannya. Dan ibu itu pun memberinya hadiah.
Pengemis soleh itu berucap: Aku mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan rahmat-Nya. Sang ibu kaya itu pun memberinya uang sepuluh ribu.
Pengemis satunya berucap: Aku mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan ibu kaya ini. Sang ibu kaya itu pun memberinya sebungkus roti.
Tapi pembungkus roti itu bukan pembungkus biasa. Di dalamnya, sudah terselipkan uang seratus ribu.
Betapa kecewanya pengemis yang mendapatkan sebungkus roti. Ia sebenarnya ingin sekali mendapatkan uang. Ia pun merayu temannya untuk ‘menukar’ sebungkus roti yang diterimanya dengan sepuluh ribu. Dan temannya tak keberatan.
Kesempatan berikutnya terulang. Pengemis soleh mengatakan, “Aku mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan Rahmat-Nya.” Ibu kaya itu memberinya uang sepuluh ribu.
Pengemis kedua mengatakan, “Aku mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan ibu kaya ini.” Ibu itu memberinya sebungkus roti, lagi. Seperti di hari sebelumnya, di dalam pembungkus roti sudah diselipkan uang seratus ribu.
Pengemis itu kecewa, lagi. Ia merayu temannya untuk menukar sebungkus roti dengan uang sepuluh ribu. Dan temannya tak keberatan.
Di momen lain lagi, dua pengemis ini bertemu dengan ibu kaya yang sama. Pengemis soleh mengatakan: Aku mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan Rahmat-Nya. Ibu kaya itu memberinya uang seratus ribu.
Pengemis kedua mengatakan, “Aku mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan ibu kaya ini.” Kali ini, ia berharap ibu kaya itu mau memberinya uang yang lebih besar. Tapi, ibu kaya itu tetap memberinya sebungkus roti.
Seperti di momen-momen sebelumnya, pengemis kedua ini menukar sebungkus roti yang diterimanya dengan uang sepuluh ribu ke pengemis soleh. Dan, pengemis soleh itu pun tak keberatan.
Kali ini, si pengemis kedua penasaran: kenapa pengemis soleh temannya itu mau saja menukar sebungkus roti jatahnya dengan uang sepuluh ribu miliknya.
Dengan jujur si pengemis soleh menjawab, “Awalnya, aku hanya ingin menolongmu. Tapi, aku menemukan uang seratus ribu di bungkusan roti itu. Dan seterusnya, aku pun tidak merasa keberatan.”
“Mungkin itu sesuai ucapanmu: mengharapkan rezeki Allah dari kemurahan Rahmat-Nya,” ucap si pengemis kedua sembari menyadari kekeliruannya.
**
Allah subhanahu wata’ala berkuasa mengalirkan rezeki-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan, jatah rezeki tidak akan tertukar, seberapa pun kekuatan siasat manusia.
Mintalah dengan tulus hanya kepada Allah. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, rezeki menjadi sangat bernilai, seberapa pun jumlahnya. [Mh]


