SERING kali kita sibuk menilai keadaan di sekitar. Kita menyalahkan suasana yang bising, orang-orang yang melukai, atau keadaan yang tidak berjalan sesuai harapan. Padahal, perjalanan menuju ketenangan tidak selalu dimulai dengan mengubah dunia luar. Kesadaran diri justru lahir ketika kita berhenti menghakimi segala kebisingan, lalu mulai bertanya dengan jujur, “Dari mana sebenarnya semua ini berasal?”
Dalam Islam, manusia bukan hanya memiliki tubuh, tetapi juga hati, akal, nafsu, dan ruh. Keempatnya saling memengaruhi dalam menentukan cara kita berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan. Ketika salah satunya tidak berada pada tempatnya, hidup sering terasa penuh kegelisahan meskipun keadaan di luar terlihat baik-baik saja.
Baca Juga: Barirah Sang Wanita Merdeka yang Teguh Memegang Prinsip
Kesadaran Diri Berawal dari Mengenal Isi Hati
Hati atau qalb adalah pusat kepekaan seorang hamba. Dari hati lahir keikhlasan, kasih sayang, syukur, dan rasa takut kepada Allah. Jika hati dipenuhi penyakit seperti sombong, iri, dan dengki, maka kebahagiaan dunia pun terasa sulit dinikmati. Sebaliknya, hati yang bersih akan lebih mudah menerima nasihat dan menemukan ketenangan dalam ibadah.
Akal adalah anugerah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Akal membantu kita menimbang mana yang benar dan mana yang salah. Namun, akal yang tidak dibimbing wahyu bisa saja tersesat oleh hawa nafsu. Karena itu, ilmu dan petunjuk Al-Qur’an menjadi cahaya agar akal tetap berjalan di jalan yang lurus.
Kemudian ada nafsu, yaitu dorongan yang selalu mengajak manusia kepada berbagai keinginan. Nafsu bukan untuk dimusnahkan, melainkan dikendalikan. Makan, bekerja, berkeluarga, dan menikmati nikmat dunia adalah hal yang dibolehkan, selama semuanya berada dalam batas yang diridhai Allah. Ketika nafsu menjadi pemimpin, manusia mudah dikuasai amarah, syahwat, dan cinta dunia yang berlebihan.
Adapun ruh adalah rahasia kehidupan yang Allah tiupkan kepada manusia. Ruh menjadikan kita selalu merindukan kedekatan dengan Sang Pencipta. Karena itulah, saat ruh diberi makanan berupa dzikir, tilawah Al-Qur’an, doa, dan shalat yang khusyuk, hati akan merasakan ketenteraman yang tidak bisa dibeli oleh harta.
Kesadaran diri bukan berarti merasa diri paling buruk, tetapi berani mengenali apa yang sedang terjadi di dalam jiwa. Sebelum memperbaiki orang lain, perbaikilah hati. Sebelum menyalahkan keadaan, periksalah niat. Dan sebelum berharap dunia berubah, dekatkan diri kepada Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menjadikan hati kita bersih, akal kita dipenuhi hikmah, nafsu kita mampu dikendalikan, dan ruh kita selalu hidup dengan mengingat-Nya. Sebab perbaikan terbesar dalam hidup selalu dimulai dari dalam diri. [DW]
Sumber: dr.Zaidul Akbar


