DI BALIK rumah sederhana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada seorang perempuan yang kisahnya terus dikenang hingga kini. Namanya Barirah, seorang mantan budak yang pernah menjadi pelayan Aisyah dan kemudian dimerdekakan. Meski berasal dari kalangan yang sederhana, Allah mengangkat derajatnya melalui keimanan, keberanian, dan keteguhannya dalam memegang prinsip kebenaran. Kisah Barirah bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran tentang harga diri, kebebasan, dan ketaatan kepada Allah.
Sebelum merdeka, Barirah hidup sebagai budak milik sebuah keluarga. Ia menikah dengan seorang budak bernama Mughits. Suatu hari, Barirah datang kepada Aisyah untuk meminta bantuan melunasi perjanjian pembebasan dirinya (mukatabah). Aisyah bersedia membayar seluruh biaya pembebasannya, lalu memerdekakan Barirah karena mengharap pahala dari Allah. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar penting dalam hukum Islam tentang hak wala’, yaitu bahwa hak tersebut dimiliki oleh orang yang memerdekakan budak.
Baca Juga: Asma Binti Syakl Sahabiyah yang Tak Malu Belajar Agama
Barirah Sang Wanita Merdeka yang Teguh Memegang Prinsip
Memilih dengan penuh kesadaran
Setelah Barirah merdeka, Rasulullah memberikan kepadanya hak untuk memilih: tetap melanjutkan pernikahan dengan Mughits yang masih berstatus budak atau berpisah. Barirah memilih mengakhiri pernikahannya. Keputusan itu bukan didasari kebencian, melainkan hak yang diberikan syariat kepada perempuan yang telah merdeka.
Yang paling menyentuh adalah sikap Rasulullah ketika melihat Mughits begitu mencintai Barirah. Beliau hanya menyarankan agar Barirah mempertimbangkan untuk rujuk. Barirah pun bertanya dengan penuh adab, “Apakah itu perintah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku hanya memberi saran.” Mendengar jawaban itu, Barirah tetap pada pilihannya. Dari sini terlihat bahwa ia mampu membedakan antara perintah agama dan nasihat, lalu mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab.
Membela kebenaran tanpa ragu
Barirah juga dikenal sebagai perempuan yang jujur. Ketika muncul fitnah besar terhadap Aisyah dalam peristiwa Haditsul Ifk, Rasulullah meminta kesaksian Barirah mengenai akhlak Aisyah. Barirah menjawab dengan tegas bahwa ia tidak mengetahui keburukan pada Aisyah selain hal-hal kecil yang wajar, seperti tertidur hingga adonan roti dimakan hewan. Kesaksian jujurnya menjadi bukti bahwa ia tidak mau berkata kecuali yang benar.
Teladan yang patut dicontoh
Ada beberapa akhlak mulia dari Barirah yang relevan hingga sekarang. Pertama, ia berusaha memperjuangkan kemerdekaannya dengan cara yang halal dan penuh kesabaran. Kedua, ia berani mengambil keputusan penting dalam hidup tanpa dipengaruhi tekanan orang lain. Ketiga, ia menjaga kejujuran meskipun sedang berada di tengah persoalan besar. Dan yang tak kalah penting, ia selalu menghormati Rasulullah dengan adab yang luhur, bahkan ketika menyampaikan pendapatnya sendiri.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Barirah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya. Seorang mantan budak pun dapat menjadi wanita mulia yang riwayat hidupnya dijadikan pelajaran oleh para ulama dan umat Islam sepanjang zaman. Dengan iman, kejujuran, dan keteguhan prinsip, Barirah membuktikan bahwa kebebasan sejati lahir dari hati yang tunduk kepada Allah. [DW]





