TIDAK semua perempuan yang hidup di masa Rasulullah meninggalkan kisah panjang dalam catatan sejarah. Ada yang dikenal karena keberanian, ada yang dikenang karena ilmu, dan ada pula yang namanya tercatat melalui keluarga serta perjalanan hidupnya bersama para sahabat. Salah satunya adalah Jamilah binti Tsabit bin Abi al-Aqlah Al-Anshariyah, seorang sahabiyah yang berasal dari Madinah.
Jamilah merupakan saudara perempuan Ashim bin Tsabit, salah seorang sahabat Rasulullah yang dikenal dalam sejumlah peristiwa penting pada masa awal Islam. Jamilah kemudian menikah dengan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat utama Rasulullah dan khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra bernama Ashim bin Umar bin Khattab. Informasi mengenai hubungan keluarga ini dicatat oleh para ahli sejarah dan biografi sahabat, di antaranya Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah.
Baca Juga: Zainab Binti Al-Awwam, Shahabiyah yang Menjadi Saksi Perjalanan Islam di Keluarga Quraisy
Jejak Jamilah Binti Tsabit, Sahabiyah yang Namanya Diabadikan Rasulullah
Salah satu hal menarik dari kisah Jamilah adalah perubahan namanya. Dalam sejumlah riwayat, nama Jamilah sebelumnya disebut ‘Ashiyah atau ‘Asiyah. Setelah ia masuk Islam, Rasulullah mengganti namanya menjadi Jamilah. Nama tersebut memiliki makna yang baik, yaitu “indah” atau “cantik”.
Riwayat mengenai perubahan nama ini disebutkan dalam beberapa sumber hadis dan kitab biografi sahabat. Dalam Al-Ishabah, Ibnu Hajar menyebut bahwa Jamilah adalah istri Umar bin Khattab dan sebelumnya bernama ‘Ashiyah, kemudian Rasulullah menamainya Jamilah.
Kisah perubahan nama ini memberikan pelajaran menarik mengenai perhatian Islam terhadap nama yang memiliki makna baik. Nama bukan sekadar panggilan, tetapi juga dapat menjadi doa dan identitas seseorang. Karena itu, mengganti nama yang memiliki makna kurang baik dengan nama yang lebih baik menjadi salah satu bentuk perhatian yang terdapat dalam riwayat kehidupan generasi awal Islam.
Dari pernikahannya dengan Umar, Jamilah dikaruniai Ashim bin Umar bin Khattab. Putranya tersebut kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh dari generasi setelah sahabat. Dalam Siyar A’lam an-Nubala’, Imam Adz-Dzahabi menyebut Ashim bin Umar sebagai seorang yang memiliki kedudukan baik, saleh, fasih, dan dikenal sebagai penyair. Ibunya disebut secara jelas sebagai Jamilah binti Tsabit bin Abi al-Aqlah Al-Anshariyah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Namun, kehidupan rumah tangga Jamilah dan Umar tidak berlangsung selamanya. Keduanya kemudian berpisah. Setelah perceraian tersebut, Jamilah menikah dengan Yazid bin Jariyah Al-Anshari dan dari pernikahan itu lahir Abdurrahman bin Yazid. Dengan demikian, Jamilah menjadi ibu dari dua tokoh yang memiliki hubungan keluarga dengan Umar bin Khattab melalui jalur yang berbeda. Keterangan mengenai pernikahan dan keturunannya juga dicatat dalam Al-Ishabah.
Kisah Jamilah binti Tsabit mungkin tidak sepopuler kisah Khadijah, Aisyah, atau Fatimah radhiyallahu ‘anhunna. Namun, justru dari kisah yang singkat ini kita dapat melihat bahwa para perempuan Anshar memiliki tempat penting dalam sejarah generasi pertama Islam.
Jamilah adalah bagian dari generasi yang hidup dekat dengan Rasulullah, membangun keluarga di tengah masyarakat Muslim Madinah, dan menjadi ibu dari generasi yang turut meneruskan kehidupan umat Islam. Kisahnya mengajarkan bahwa tidak semua keteladanan harus hadir dalam cerita yang panjang. Terkadang, sebuah nama, sebuah keluarga, dan perjalanan hidup yang sederhana sudah cukup untuk menjadi bagian penting dari sejarah Islam. [DW]
Sumber: Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





