IKHLAS itu syarat diterima atau ditolaknya amal soleh seseorang. Dan pada ibadah haji dan kurban, ujian ikhlas itu jauh lebih besar.
Haji dan Kurban merupakan amal ibadah yang pahalanya luar biasa. Selain sebagai rukun Islam, ibadah haji Allah jaminkan pahalanya surga.
Begitu pun dengan ibaah kurban. Meski sunnah muakkadah, ibadah kurban juga Allah berikan pahala yang besar. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan untuk mereka yang kaya tapi tidak berkurban dengan sebutan: jangan dekati tempat shalat kami.
Ujian Ikhlas di Haji dan Kurban
Ikhlas itu syarat utama diterimanya amal soleh. Yaitu, memurnikan niat karena Allah. Bukan karena yang lain. Bukan pula karena tujuan lain.
Masalahnya, baik ibadah haji maupun kurban, ‘publikasi’nya tak terhindarkan. Sulit dilakukan diam-diam. Setidaknya, para tetangga akan tahu kalau kita akan melaksanakan ibadah haji atau pun ibadah kurban.
Bahkan tradisi di rumpun melayu seperti Indonesia dan Malaysia, orang yang sudah menunaikan ibadah haji akan mendapatkan gelar khusus: yaitu panggilan haji sebelum namanya.
Tradisi ini tentu bukan untuk merusak keikhlasan seseorang. Melainkan sebagai apresiasi jihad mereka karena sudah sukses menunaikan ibadah yang penuh pengorbanan ini. Baik harta maupun jiwa.
Hal ini karena di masa lalu, jamaah haji harus menempuh waktu berbulan-bulan melalui kapal laut untuk bisa tiba di tanah suci. Biayanya besar dan risikonya juga jauh lebih besar.
Jangan karena Ingin Disebut Pak atau Bu Haji
Pemahaman tentang asal muasal tradisi sebutan pak dan bu haji ini memberikan pemahaman bahwa bukan itu tujuan dari ibadah haji. Bukan karena pencitraan. Bukan pula karena tujuan ‘rekayasa’ status sosial seseorang.
Namun, semata-mata karena ingin menunaikan perintah Allah bagi mereka yang mampu. Ketika mampu itu ada, maka tak ada alasan lain untuk mengabaikannya.
Ibadah haji dan kurban juga pengingat tentang sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimussalam. Dua ibadah itu mereka contohkan langsung di tanah suci Mekah.
Dari mana pun asal negara jamaah, mereka akan terhubung dalam satu suasana yang sama. Yaitu, berjihad untuk meneruskan ibadah yang telah dicontohkan Bapak dari para Nabi dan Rasul.
Sekali lagi, jangan pernah merasa unggul dari yang lain karena mampu beribadah haji dan kurban. Semua pengorbanan besar di dua ibadah itu hanya Allah balas karena keikhlasannya. [Mh]




