PULANG kampung menjadi bagian tak terpisahkan dengan Lebaran. Sayangnya, ada gegar di ‘ritual’ tahunan itu.
Ada pemandangan tak menyenangkan di sebuah desa. Satu keluarga yang baru saja tiba di kampung halaman diusir oleh nenek mereka. Sang nenek tersinggung karena anak cucunya tak kerasan dengan lantai tanah rumah yang memang masih berupa tanah apa adanya.
Bukan Perjalanan Biasa
Sejatinya, pulang kampung punya kenikmatan tersendiri. Sebuah perjalanan yang bernilai religius dan budaya. Religius karena ada perintah agama untuk menyambung tali silaturahim. Dan budaya, sebagai pewarisan kebiasaan baik secara turun-temurun.
Di situlah terjadi perjumpaan multi dimensi. Yaitu, perjumpaan lintas generasi dengan berbagai kekhasan karakter. Ada kakek nenek di situ, ada anak menantu, dan cucu-cucu.
Mereka saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Juga berbagi rasa tentang dunia pedesaan yang menjadi asal mula kehidupan mereka.
Tanpa diucapkan pun, tranformasi budaya sedang berlangsung selama penghuni kota ini menyelami kehidupan yang mestinya bagian tak terpisahkan mereka.
Mereka pun bisa bercermin di situ. Seolah, menyegarkan kembali karakter-karakter utama yang harus mereka pertahankan dan lestarikan. Meskipun mereka tak lagi tinggal di desa.
Antara lain, gotong royong, mencintai alam, menjaga kelestarian lingkungan, kehidupan yang tak bersekat, saling berbagi apa pun latar belakang mereka.
Kesenjangan dan Penyimpangan
Yang harus selalu diluruskan siapa pun yang pulang kampung, bahwa mereka tidak sedang berwisata. Mereka tidak sedang tinggal di sebuah penginapan yang serba ada, meskipun mereka sanggup membayarnya.
Mereka juga tidak sedang menunjukkan keunggulan sisi kota di tengah masyarakat desa. Cobalah resapi apa yang ada di desa, jangan paksa mereka untuk menyimak yang sedang kita bawa.
Apa pun kesuksesan yang sudah diraih di kota, jangan pernah hinakan eksistensi suasana desa. Cobalah justifikasi kehidupan kota kita dengan suasana desa, dan bukan sebaliknya.
Sinergi yang Menyegarkan
Interaksi pulang kampung sejatinya menyerap hal positif di dua sisi: apa yang ada di kota dan apa yang di desa.
Kota mungkin menjanjikan materi yang berlimpah, tapi desa menguatkan nilai bahwa tanpa karakter yang kuat segala keberlimpahan menjadi begitu rapuh.
Ada sinergi di situ. Kota bisa mentranformasi desa dengan berbagai peluang bisnis dan ekonomi melalui kapitalitasi sumber daya yang ada. Dan desa bisa melakukan pelurusan segala hal bengkok sebagai polutan suasana kota.
Betapa nikmatnya pulang kampung. Ada perjalanan yang tidak pernah berhitung untung rugi. Dan ada suasana kekeluargaan dan justifikasi karakter asli kita yang semuanya memang berasal dari desa. [Mh]


