PROGRAM pemberdayaan ekonomi berbasis ZISWAF yang dijalankan oleh Dompet Dhuafa terus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan Madaya Coffee dan Madina Bakery yang menjadi bagian dari berbagai program pemberdayaan di kawasan Zona Madina.
Madaya Coffee telah menjalankan program pemberdayaan selama 12 tahun. Program ini dinilai cukup menjanjikan, khususnya bagi anak muda yang ingin terlibat dalam sektor pertanian dan pengembangan produk kopi lokal. Inisiatif ini berfokus pada penciptaan produk yang memiliki nilai jangka panjang sekaligus membuka peluang pasar bagi para petani.
Berbagai jenis kopi yang dipasarkan Madaya Coffee berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Padang, Sulawesi Selatan, hingga Jawa Tengah. Produk tersebut merupakan hasil kerja sama dengan petani lokal yang menjadi penerima manfaat dari program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa.
Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa melalui Madaya Coffee dan Madina Bakery Dorong Kemandirian Masyarakat
Secara khusus, pengembangan brand Madaya Coffee sendiri telah berjalan selama enam tahun. Kopi yang paling banyak diproduksi berasal dari jenis robusta Temanggung. Selain memperkuat produksi, Madaya Coffee juga memfokuskan diri pada perluasan pemasaran serta rebranding produk para petani kopi binaan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dalam operasionalnya, Madaya Coffee memiliki empat sektor utama, yakni unit produksi, unit kafe, serta pelayanan jasa dan kemitraan. Saat ini, jaringan Madaya Coffee telah hadir di tiga lokasi, yaitu Depok Cimanggis, Parung Bogor, serta kantor pusat Dompet Dhuafa.
Sementara itu, program pemberdayaan lain yang berkembang di kawasan yang sama adalah Zona Madina. Menurut Imam Saputra, Zona Madina merupakan miniatur pengelolaan program ZISWAF yang mencakup lima bidang utama, yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, dakwah, dan kebudayaan.
Program ini telah dimulai sejak tahun 2008 dengan pembangunan Rumah Sehat Terpadu sebagai layanan kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, kegiatan dakwah juga aktif digelar di Masjid Al-Madinah yang menjadi pusat aktivitas keagamaan, termasuk kelas tahsin yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu.
“Kami berharap keberadaan Zona Madina dapat memberikan efek positif bagi masyarakat sekitar,” ujar Imam Saputra.
Pada sektor ekonomi, salah satu program yang diperkuat adalah Madina Bakery. Program ini lahir dari upaya memaksimalkan potensi para penerima manfaat yang memiliki minat di bidang kuliner dan usaha mikro.
Madina Bakery tidak dikembangkan secara sembarangan. Pengelola bekerja sama dengan para ahli untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus membangun kapasitas para pelaku UMKM. Saat ini, program tersebut melibatkan lima orang pengelola, terdiri dari tiga pekerja dapur, satu manajer, dan satu kasir.
Target produksi Madina Bakery mencapai 1.000 hingga 2.000 produk setiap harinya. Seluruh tenaga kerja direkrut dari kalangan anak muda di sekitar masyarakat dengan syarat memiliki minat dan semangat dalam bidang usaha.
Di kawasan Zona Madina sendiri terdapat sekitar 62 penerima manfaat dari berbagai program pemberdayaan. Menariknya, seluruh pedagang yang berjualan di kawasan tersebut tidak dikenakan biaya sewa. Pengelola hanya melakukan perhitungan harga pokok produksi guna memastikan keberlanjutan program.
Melalui berbagai program pemberdayaan yang dijalankan Dompet Dhuafa ini, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu berkembang menjadi pelaku usaha yang mandiri, produktif, serta menghasilkan produk berkualitas. [Din]




