PROGRAM pemberdayaan peternakan ayam petelur arab Dompet Dhuafa di kawasan Parung, Bogor, menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, hal ini diketahui pada acara Press Touring Berzakat Itu Kalcer, Rabu (11/3/2026).
Program ini melibatkan tokoh masyarakat setempat, salah satunya Yahya, yang turut menjadi penerima manfaat sekaligus penggerak kegiatan peternakan ayam arab di wilayah tersebut.
Setiap plasma memiliki sekitar 250 ekor ayam, sehingga total populasi ayam cukup besar dan mampu menghasilkan produksi telur yang signifikan. Program ini mulai berjalan sejak tahun 2022, ketika harga ayam pada umumnya sedang mengalami penurunan atau kenaikan, sementara harga ayam arab relatif stabil di pasaran.
Ayam arab dikenal sebagai jenis ayam kampung yang produktif karena mampu menghasilkan sekitar 250 butir telur per tahun. Ayam-ayam tersebut mulai produktif bertelur pada usia 25 minggu, sementara rata-rata usia ayam yang dipelihara saat ini sekitar tiga bulan.
Di kawasan yang dikenal sebagai Zona Madina setiap hari mampu menghasilkan sekitar 1.500 hingga 2.000 butir telur ayam arab. Menariknya, ayam arab memiliki masa produksi telur yang cukup panjang, yakni hingga dua tahun.
Baca juga: Ramadhan Mendatang, Dompet Dhuafa Mengusung Kampanye Berzakat Itu Kalcer
Program Pemberdayaan Ayam petelur Arab Dompet Dhuafa di Parung Bogor Bantu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
Program ini dirancang sebagai skema pemberdayaan masyarakat melalui sistem pendampingan dari hulu hingga hilir. Nur Iman selaku Spesialis Program Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa, menjelaskan bahwa telur ayam arab memiliki pasar yang cukup khusus karena umumnya diminati oleh kalangan menengah ke atas.
“Telur ayam arab memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan telur ayam biasa. Setelah dipanen, telur juga diklasifikasikan berdasarkan ukuran menjadi tipe A, B, dan C dengan harga yang berbeda,” ujarnya.
Harga telur pun bervariasi tergantung ukuran dan saluran distribusi. Di pasar modern seperti Alfamidi, telur dijual sekitar Rp3.500 hingga Rp4.000 per butir, sementara di tingkat agen untuk ukuran kecil berkisar Rp1.800, ukuran sedang Rp2.200, dan ukuran besar Rp2.500 per butir.
Untuk menjaga kualitas telur, ayam diberi pakan pabrikan murni tanpa campuran. Selain menjaga kualitas, pakan tersebut juga membuat daya tahan tubuh ayam lebih kuat sehingga perawatannya lebih mudah. Ayam juga hanya memerlukan vaksinasi setiap enam bulan sekali.
Masa produktif ayam berlangsung hingga sekitar 20 bulan. Setelah masa produksi telur berakhir, ayam akan dijual sebagai ayam pedaging sehingga tetap memberikan nilai ekonomi tambahan bagi peternak.
Yahya, salah satu penerima manfaat program ini, mengaku sangat merasakan dampak positif dari pemberdayaan tersebut.
“Alhamdulillah dengan adanya program ini kehidupan saya menjadi lebih terang karena dalam satu bulan ini sudah mulai menghasilkan penghasilan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa awalnya dirinya terpilih sebagai penerima manfaat melalui proses seleksi yang melibatkan pihak KUA di wilayah setempat. Setelah itu, ia mendapatkan fasilitas lengkap mulai dari kandang, bibit ayam, pakan, hingga vaksinasi.
Meski demikian, pengelolaan peternakan ayam arab juga memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pengelolaan limbah kotoran ayam agar tidak mengganggu lingkungan dan kesehatan ayam. Selain itu, faktor cuaca juga mempengaruhi kebutuhan vitamin dan pakan.
“Misalnya ketika musim hujan, kebutuhan vitamin bisa meningkat dari dua bungkus menjadi empat bungkus. Jam makan dan jenis pakan juga harus diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap produksi telur,” jelas Rohman.
Dari hasil uji laboratorium, kandungan nutrisi telur ayam arab tercatat sekitar 0,81 hingga 0,85, lebih tinggi dibandingkan telur ayam negeri biasa yang berada di angka sekitar 0,40.
Hingga saat ini, program pemberdayaan peternakan ayam arab telah tersebar di lima kecamatan di wilayah tersebut. Penerima manfaat dipilih melalui proses seleksi ketat, termasuk memastikan lokasi kandang berada di lahan pribadi dan tidak berada di kawasan padat penduduk.
Melalui program ini, seluruh hasil usaha peternakan diarahkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan di tingkat lokal. [Din]




