VARIAN baru Covid-19 BA.3.2 atau yang dikenal sebagai Covid-19 Cicada kini telah terdeteksi di puluhan negara dan menunjukkan tren penyebaran lintas wilayah.
Data global menunjukkan varian ini muncul di berbagai kawasan, mulai dari Amerika Serikat hingga Eropa dan Afrika, sehingga menjadi perhatian otoritas kesehatan dunia.
Varian ini masuk dalam daftar pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena jumlah mutasinya yang tinggi dan penyebarannya yang terus berkembang.
Sejauh ini, penyebaran Covid-19 Cicada tercatat terjadi di sejumlah wilayah di dunia dengan tren peningkatan kasus.
Data menunjukkan bahwa negara Covid-19 Cicada tidak hanya terbatas di satu kawasan, tetapi telah menjangkau beberapa benua.
Beberapa negara yang melaporkan keberadaan varian ini antara lain:
Amerika Serikat
Jepang
Inggris
Belanda
Kenya Beberapa negara di Eropa Timur.
Baca juga: Kenali Gejala Awal dari Penyakit Campak
Daftar Negara yang Terdeteksi Kasus Covid-19 Cicada
Varian ini bahkan telah terdeteksi di setidaknya 25 negara bagian di Amerika Serikat. Selain itu, varian ini juga ditemukan dalam sampel air limbah, yang menjadi indikator awal penyebaran virus di masyarakat.
Varian Covid-19 Cicada sebenarnya bukan varian baru yang muncul secara tiba-tiba. Dikutip dari berbagai sumber, profesor kedokteran dari University of Virginia Kyle B. Enfield, menjelaskan bahwa varian ini telah terdeteksi sejak November 2024 di Afrika Selatan.
Sejak saat itu, virus menyebar secara perlahan dan sempat tidak terdeteksi dalam waktu lama sebelum akhirnya meningkat pada 2025 hingga 2026. Para ahli menyebut pola ini mirip dengan serangga cicada yang muncul setelah “bersembunyi” dalam waktu lama.
Kemampuan mutasi yang tinggi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penularan Covid-19 Cicada.
Varian BA.3.2 memiliki sekitar 70 hingga 75 mutasi pada spike protein, yaitu bagian virus yang digunakan untuk masuk ke dalam sel manusia.
Perubahan ini membuat virus lebih sulit dikenali oleh sistem imun, sehingga berpotensi menyebar lebih luas. Ahli virologi Andrew Pekosz, menyebut varian ini terlihat “berbeda” bagi sistem kekebalan tubuh.
Meski telah menyebar di banyak negara, para ahli menilai varian Covid-19 Cicada belum menunjukkan dampak yang lebih berat dibanding varian sebelumnya.
Tidak ada bukti bahwa varian ini menyebabkan peningkatan keparahan penyakit atau lonjakan besar kasus secara global.
Namun, karena penyebarannya terus dipantau, kewaspadaan tetap diperlukan terutama di negara-negara yang telah melaporkan kasus.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kementerian Kesehatan memastikan bahwa varian Covid-19 Cicada belum ditemukan di Indonesia hingga akhir Maret 2026.
Meski demikian, pengawasan tetap diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya varian dari luar negeri.
Masyarakat diimbau tetap menjaga protokol kesehatan dasar dan tidak mengabaikan gejala infeksi pernapasan.
Meluasnya penyebaran Covid-19 Cicada di berbagai negara menunjukkan bahwa virus masih terus berkembang dan bermutasi.
Meski belum menjadi ancaman besar, pola penyebaran lintas negara menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tetap diperlukan.
Para ahli menekankan pentingnya pemantauan global dan kesiapan sistem kesehatan untuk menghadapi kemungkinan perubahan situasi. [Din]




