SEBUAH keluarga di lingkungan Al-Zeitoun, sebelah timur Kota Gaza, membangun kembali tempat tinggal mereka menggunakan tanah liat setelah rumah mereka hancur akibat genosida yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
Kawasan tersebut mengalami kerusakan luas setelah berbulan-bulan pemboman. Banyak bangunan berubah menjadi puing, termasuk rumah milik keluarga Hasbullah.
Setelah sempat mengungsi ke wilayah selatan Jalur Gaza dan tinggal di tenda, keluarga ini memutuskan kembali ke lokasi rumah mereka meskipun kondisinya telah hancur total.
Umm Muhannad Hasbullah, pemilik rumah, menyatakan bahwa mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk membangun kembali.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

“Kami memutuskan membangun dengan tanah liat karena lebih baik daripada tinggal di tenda,” ujarnya.
Selama masa pengungsian, keluarga tersebut menghadapi kondisi yang terbatas, termasuk paparan cuaca ekstrem, kurangnya privasi, serta keterbatasan fasilitas dasar.
Kondisi tersebut mendorong mereka untuk mencari alternatif tempat tinggal yang lebih permanen, meskipun dengan bahan sederhana.
Proses pembangunan dimulai dengan membersihkan puing-puing bangunan. Keluarga mengumpulkan batu yang masih dapat digunakan kembali.

Keluarga di Gaza Bangun Kembali Rumah dengan Tanah Liat di Tengah Keterbatasan
Namun, keterbatasan akses menjadi kendala karena jalan menuju lokasi sempit dan tidak dapat dilalui alat berat.
Untuk bahan utama, keluarga tersebut mengambil tanah liat dari wilayah timur Jalur Gaza, termasuk area lahan pertanian.
Tanah liat kemudian dicampur dengan air dan dibentuk menjadi balok untuk menyusun dinding. Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan bantuan anggota keluarga dan tetangga.
Penggunaan tanah liat dipilih tidak hanya karena ketersediaannya, tetapi juga karena keterbatasan bahan bangunan lain.
Semen dilaporkan sulit diperoleh di Gaza, dan jika tersedia, harganya relatif tinggi.
Baca juga: Smart 171 Bagikan Susu Formula ke Wilayah Gaza
Dalam situasi tersebut, metode pembangunan sederhana menjadi alternatif bagi sebagian warga yang kehilangan tempat tinggal.
Meskipun bangunan dari tanah liat memiliki keterbatasan, struktur tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan dasar dari cuaca.
Menurut data Biro Pusat Statistik Palestina, konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 menyebabkan kerusakan pada sekitar 384.000 unit rumah di Jalur Gaza, termasuk sekitar 87.000 unit yang hancur total.
Lebih dari 1,08 juta orang dilaporkan kehilangan tempat tinggal atau tinggal di hunian yang tidak layak, sehingga banyak di antaranya terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda dengan fasilitas terbatas.[Sdz]
Kontributor: Muhammed Rabah





