DALAM banyak keluarga, sosok ayah sebenarnya hadir secara fisik di rumah. Ia pulang setiap hari setelah bekerja, duduk bersama keluarga, dan menjalani rutinitas yang sama dari waktu ke waktu.
Namun, kehadiran tersebut sering kali hanya sebatas formalitas. Ayah memang ada, tetapi perannya sebagai figur yang terlibat dalam kehidupan anak belum benar-benar terasa.
Komunikasi yang terjalin antara ayah dan anak sering kali terbatas pada hal-hal sederhana.
Percakapan hanya seputar aktivitas harian, seperti menanyakan sekolah atau kegiatan yang sudah dilakukan. Setelah itu, masing-masing kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Tanpa disadari, hubungan emosional yang seharusnya terbangun justru menjadi renggang.
Padahal, kehadiran ayah bukan hanya soal berada di rumah secara fisik. Anak membutuhkan perhatian, waktu, dan kebersamaan yang bermakna.
Momen sederhana seperti berbincang santai, bermain bersama, atau mendengarkan cerita anak dapat membangun kedekatan yang sangat berharga.
Dari interaksi itulah anak belajar merasa dihargai dan diperhatikan.
Ketika Ayah Ada, tapi Perannya Tiada
Bagi anak laki-laki, peran ayah memiliki arti yang sangat penting. Ayah sering menjadi figur teladan yang membantu mereka memahami berbagai hal tentang kehidupan dan tanggung jawab.
Ketika perhatian tersebut tidak hadir, anak laki-laki dapat merasakan kesepian meskipun berada dalam keluarga yang lengkap.
Perasaan diabaikan perlahan dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri. Anak mungkin mulai berpikir bahwa dirinya tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian.
Baca juga: Mengajak Anak untuk Belajar Islam ketika Ibu dan Ayah Berbeda Keyakinan
Kondisi ini pada akhirnya dapat berdampak pada rasa percaya diri dan kesehatan mental mereka.
Selain itu, kurangnya keterlibatan ayah juga membuat anak laki-laki kehilangan panduan dalam memahami identitas dan perannya sebagai laki-laki.
Mereka tidak memiliki figur yang dapat menunjukkan bagaimana bersikap, mengambil keputusan, atau menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Karena itu, kehadiran ayah yang aktif dan terlibat menjadi sangat penting. Bukan sekadar ada di rumah, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan anak, mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama mereka dalam proses tumbuh kembangnya.[Sdz]





