SENI bisa menghaluskan hati seseorang, menjinakkannya untuk kembali kepada Yang Maha Indah: Allah subhanahu wata’ala.
Salah satu seni yang begitu favorit di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah syair. Keindahan bahasa Arab seperti lekukan ombak yang sempurna untuk berselancarnya para penyair.
Ada tiga penyair di masa Rasulullah yang terkenal: Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Abu Ruwahah, dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum. Dari ketiga penyair ini, Rasulullah lebih mengagumi kehebatan Hassan bin Tsabit.
Bahkan di Masjid Nabawi kala itu, disediakan sebuah panggung kecil. Panggung itu nantinya akan menjadi pentas seni para penyair Islami. Mereka menyanjungkan shalawat, seruan dakwah, bahkan seruan jihad.
Usia Hassan bin Tsabit lebih tua sekitar 7 tahun dari Rasulullah. Ia masuk Islam ketika Rasulullah tiba di Madinah. Hal ini karena Hassan berasal dari suku Khazraj, salah satu suku besar di Madinah.
Tentang usia ini begitu menarik. Tanpa disadari oleh empunya sendiri, Hassan bin Tsabit hidup dalam jahiliyah selama 60 tahun. Dan, hidup dalam Islam juga 60 tahun. Usianya 120 tahun.
Umumnya bagi orang Arab saat itu, syair dirasakan lebih tajam dari pedang. Tidak heran jika Nabi meminta Hassan untuk membuat syair khusus untuk melemahkan kafir Quraisy sebelum peperangan dimulai.
Hassan bin Tsabit dijodohkan Nabi dengan seorang muslimah yang juga merupakan adik kandung dari istri Rasul: Mariah Al-Qibtiyah. Namanya Sirin. Dari pernikahan itu, Hassan memiliki seorang putra yang ia beri nama Abdurrahman.
Begitu banyak syair karya Hassan bin Tsabit. Ia dan dua sahabat Nabi yang juga penyair: Ka’ab dan Ibnu Ruwahah merupakan pelopor lahirnya generasi penyair Islam.
Jangan anggap enteng pengaruh dari olahan kata-kata. Syair bisa melunakkan hati yang keras, dan menjadikan hati yang lembut menjadi sekuat baja. Itulah syair yang biasa digelorakan Hassan bin Tsabit untuk memompa semangat juang mujahid.
**
Kadang pengaruh seorang seniman bisa melampaui seorang ulama besar. Dakwah melalui seninya menggugah hati menjadi begitu tunduk kepada Allah. Tanpa melalui proses akademis yang jelimet, tanpa kekerasan, dan tanpa biaya mahal.
Jangan pernah berkecil hati jika hanya dunia seni yang kita kuasai. Hidupkanlah bakat itu untuk dakwah Islam. Seni bisa menjadi alat yang mampu ‘menghidupkan’ hati seseorang yang hampir ‘mati’. [Mh]





