SETIAP orang punya perspektif berbeda-beda dalam melihat suatu masalah. Berbeda bukan berarti salah.
Soal anak kita jadi WNA, itu hak semua orang. Jadi kalau anak kita lahir di Australia atau Eropa atau Amerika. Mereka punya pilihan untuk menjadi warganegara negeri tersebut bahkan maksimal usia 17 tahun mereka boleh memilih.
Lalu biasanya lewat si anak ini maka sang orangtua bisa menjadi warganegara negara tersebut. (Menyikapi masalah yang lagi viral ketika seorang penerima beasiswa negara akhirnya memilih untuk tinggal di LN dan melupakan kewajiban berkontribusi pada negara yang telah membiayai studinya).
Anak saya dua orang juga lahir di luar Indonesia. Tapi kami khususnya saya~ tahu diri dan tetap memilih menjadi warganegara Indonesia, kenapa? Lhaa semua tanah warisan adanya di Indonesia, dari ayah dan kakek buyut. Juga ayah ibu dan nenek kakek semua orang Indonesia. Juga kita tetap jadi pemimpin di negara sendiri bukan jadi warganegara kelas 2 atau bahkan diusir usir sebagai imigran. Didemo pula .. ~ Bagi saya pribadi, kehidupan n suasana di luar negeri itu cukup dinikmati saja tidak perlu dimiliki. Tapi ingat yaa, semua orang beda-beda.
Tapi bagi sebagian orang, apalagi keluarga muda ~ tinggal dan menjadi warganegara di luar negeri itu membahagiakan dan membanggakan. Kayak keren gitu.
Enggak cuma orang Indonesia yang bahagia dapat kewarganegaraan LN. Warganegara lain juga bangga jadi resident atau citizen Ausie atau Amrik atau Europe. Emang begitu rasanya .. jangan terlalu dihina atau dihujat juga. Jangan ada yang iri juga. Itu hak dia ..
Yang jadi masalah adalah dia bisa ke luar negri pakai uang negara, atau karena usaha sendiri. Bila pakai uang negara atau penerima beasiswa, yaa kudu balik .. ~ Maka harus dikembalikan ke negara segala bentuk kepandaiannya. Lain kalau jadi WNA karena expertise kerjaan atau karena menikah dengan orang asing. Kalau dibiayai oleh institusi atau negara maka yaa wajib pulang ke tempat yang mendanai dan wajib berkontribusi. Aneh sekali bila punya orangtua yang mengasuh tapi berbaktinya pada tetangga. Enggak make sense.
Sama dengan saya, sebagai owner of the school. Pimpinan tertinggi di Sekolah yang saya bangun. Saya saat ini bahkan mengajak 15 orang guru untuk ikut Umrah dan ke Turkye, main salju, lalu bla bla bla selama 28 days dan tiket, hotel bintang lima semua saya bayarin dan dapat tambahan uang jajan buat beli oleh-oleh keluarga dalam bentuk Euro, Lyra, Real dan Indonesia dan itu jumlahnya enggak sedikit (ini dari kantong saya pribadi), dan saya kontrak 10 tahun. Baliknya musti ngabdi ke Jisc – institusi yang mendanai.
Jadi kepandaian yang pasti terjadi selama perjalanan dinas dan study keluar negeri walau hanya 28 days harus diimbangi dengan tidak boleh keluar dari institusi kami dong.
Apalagi yang dapat beasiswa negara sampai milyaran.
Di Jakarta Islamic School ~ Setiap tahun 10-15 guru kami upayakan umrah. Dan most of teachers and staff bahkan OB di Jisc sudah umrah, bahkan beberapa juga sudah pergi haji. Rezeqiminallah. Semoga pajak sekolah saya enggak tinggi. Sebab uang habis untuk building and maintenance dan renovasi dan operasional dan kesejahteraan guru dan staff dan saya sendiri selaku guru besar dan konseptor of the school # curcol.
Dari 545 karyawan dan guru di Jakarta Islamic School sudah ada 400 orang yang Umrah, juga ke Turkye, ada yang ke China, Thailand, Brunei, Malaysia, Singapore, New Zealand, Belanda, Japan, Korea, Koln -German, Belgia, Australia, Paris, Swiss, banyak deh pokoknya. Dan mereka harus tandatangan kontrak untuk tetap setia dan berkontribusi kepada institusi yang membiayai. Kebanyakan mereka belajar. Sesuai dengan visi misi sekolah kami.
Ya sebagai sekolah yang mengklaim International Islamic school, mengantarkan guru-guru keluar negeri itu wajibun. Bagaimana mungkin mereka faham apa itu International school bila tak ada exposure atau immerse dengan International ambience.
Jadi sekolah International itu menurut saya yaa, wajib untuk menghantarkan gurunya belajar keluar negeri. Minimal 2 pekan maksimal berpekan-pekan and many times sampai mereka faham. Apa yang mereka sedang lakukan dan mendapatkan feel and expertise yang sama dengan guru-guru di luar negeri. Ini pendapat saya sebagai founder and conceptor Jakarta Islamic school – as the first .. bla bla bla – jadi promosi deh. Yaa demikianlah hidup sayah..
Baca juga: 11 Pesan Mam Fifi untuk Anak-anak JIBBS Immersion ke Madinah
Setiap Orang Punya Perspektif Berbeda
Lalu ..
Rata-rata guru Jisc yang berjibun 545 orang ini setia dan kembali mengabdi, yang tidak setia ada satu dua dan biasanya tidak berkah. Sorry to say.
Wallahu ‘alam
Bukan nyumpahin.
Kita pakai konsep yang tertulis dalam surat Ar rahmaan; Hal Jaza’ul ihsan ilal ihsan.
Segala kebaikan akan kembali pada kebaikan.
Berbuat baik saja.
Mikirin orang yang mendanai
Jangan hanya mau ambil untung
‘No free lunch – tidak ada makan siang gratis.’
Hidup ini penuh konsekuensi.
# Selamat menikmati kontrak yang bahkan ada guru Jisc bilang: sampai dajjal punya cucu .. kita tetap di Jisc
Yaa bersama membangun jiwa pemimpin bangsa dan umat.
Together we can.
Bersama kita bisa.





