RUPIAH terus turun dibandingkan dengan mata uang dolar AS. Tercatat sejak Kamis, 4 Juni lalu, nilai dolar sudah di atas 18 ribuan rupiah. Wow!
Nilai ini tergolong yang terendah sepanjang sejarah republik ini. Pernah anjlok di ujung masa Orba. Tapi hanya mentok di angka 17 ribu. Tidak sampai serendah di masa saat ini.
Kenapa? Jawabannya bisa macam-macam. Dari sudut pandang ekonom, hal ini karena ada kebijakan ekonomi yang ditolak pasar. Dari sudut pandang politisi, hal ini karena para pejabat sudah tidak mampu bekerja dengan baik.
Meskipun, pemerintah sudah menjelaskan bahwa fundament ekonomi Indonesia baik-baik saja, kuat, dan lainnya. Tapi, penurunan rupiah terus bergulir.
Bukan hanya di nilai rupiahnya. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pun mengalami penurunan yang luar biasa. Dari sebelumnya di angka tujuh ribuan, kini di angka lima ribuan. Dan trendnya seperti menunjukkan penurunan.
Dampaknya?
Karena ekonomi Indonesia tidak berdiri sendiri seperti yang dialami Iran, maka setiap barang impor akan menjadi semakin mahal. Meskipun jumlah dan jenisnya itu-itu juga.
Di Cianjur misalnya, ada pabrik tahu yang terpaksa tutup. Bukan karena tidak laku, tapi karena bahan baku kacang kedelainya tak lagi sanggup mereka beli. Tempe dan tahu di negeri ini, kacang kedelainya diimpor dari Amerika.
Begitu pun dengan pupuk, LPG, BBM, mobil, elektronik, dan lainnya; merupakan produk impor yang dibeli dengan nilai dolar. Jika dolar naik, harga barang-barang itu pun akan ikut tergerek naik.
Belum lagi dengan sejumlah kewajiban pemerintah tentang pembayaran bunga utang luar negeri. Setiap kenaikan seratus rupiah per dolar, jumlah utang akan bertambah triliuan rupiah.
Solusi?
Persoalan ini memang tak semudah yang dibayangkan. Mengganti menteri keuangan mungkin saja dianggap perlu oleh sebagian pihak. Tapi, itu bukan masalah satu-satunya.
Yang utama adalah kepiawaian nakhoda bangsa saat ini. Burhanuddin Jusuf Habibie pernah ‘dilecehkan’ sebagai presiden yang buruk oleh internasional dan dalam negeri.
Tapi, sejarah mencatat, beliau mampu menurunkan nilai dolar dari 17 ribu menjadi 6 ribu saja. Hanya dalam beberapa bulan. Kenapa sekarang menurunkan seratus rupiah saja menjadi terlihat begitu sulit?
Sepertinya, kepemimpinan bukan sekadar dukungan. Melainkan juga, soal kapasitas. [Mh]


