ADA masa ketika kita bertanya dalam hati, “Untuk apa terus berbuat baik jika tak dihargai?” Atau mungkin, “Mengapa keikhlasan terasa begitu berat ketika yang kita terima justru kecewa?”
“Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri…” (QS. Al-Isra: 7)
Baca Juga: Benarkah Kopi Americano Bisa Membantu Menurunkan Berat Badan?
Kebaikan Akan Selalu Kembali, Bagaimana Caranya?
Ayat ini seolah datang mengetuk pintu hati yang mulai letih. Allah tidak mengatakan bahwa setiap kebaikan akan segera dibalas oleh manusia. Tidak pula menjanjikan bahwa jalan orang-orang yang berbuat baik akan selalu mudah. Namun Allah mengingatkan satu hakikat yang sering terlupa, yaitu: setiap kebaikan sesungguhnya tidak pernah meninggalkan pemiliknya. Ia akan selalu pulang dengan beragam bentuknya.
Pulang menjadi ketenangan di dalam hati. Pulang menjadi keberkahan dalam hidup. Pulang menjadi cahaya yang menerangi langkah, bahkan ketika dunia terasa gelap. Dan kelak, ia pulang sebagai pahala yang Allah simpan dengan sempurna di sisi-Nya.
Begitu pula sebaliknya. Keburukan tidak pernah benar-benar selesai saat dilakukan. Ia meninggalkan jejak di dalam hati. Sedikit demi sedikit mengeraskan nurani, menghilangkan kedamaian, dan menjauhkan seorang hamba dari kelembutan yang Allah cintai. Mungkin manusia tidak melihatnya, tetapi hati selalu merasakannya.
Ayat ini mengajarkan bahwa hidup bukan tentang bagaimana orang lain memperlakukan kita. Hidup adalah tentang siapa atau apa yang sedang kita bentuk di hadapan Allah.
Maka ketika kita memilih memaafkan, sesungguhnya kita sedang membebaskan diri dari beban yang panjang. Ketika kita memilih bersabar, yang sedang dikuatkan pertama kali adalah hati kita sendiri. Ketika kita memilih tetap jujur di tengah godaan, yang sedang dijaga adalah kemuliaan jiwa kita.
Barangkali inilah makna terdalam dari berbuat baik. Kita tidak sedang mengubah orang lain. Kita sedang menjaga agar hati kita tetap hidup.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Mungkin hari ini tidak semua kebaikan kita diapresiasi. Tidak semua pengorbanan kita dikenang. Tidak semua air mata kita dihargai. Namun tidak ada satu pun yang luput dari pandangan Allah SWT.
Karena itu, jangan biarkan sikap orang lain menentukan kualitas amal kita. Tetaplah menjadi pribadi yang lembut di tengah kerasnya kehidupan. Tetaplah menebar kebaikan meski tak selalu disambut. Sebab, setiap kebaikan yang lahir karena Allah, tidak akan pernah sia-sia.
Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa Allah tidak sedang meminta kita mengubah seluruh dunia. Allah hanya meminta agar kita tidak kehilangan cahaya di dalam diri.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dan mungkin, itulah hadiah terbesar dari setiap amal saleh: bukan hanya pahala yang menanti di akhirat, tetapi hati yang tetap hidup, tetap jernih, dan tetap mampu mencintai kebaikan, apa pun yang terjadi.
“Jika engkau berbuat baik, sesungguhnya engkau sedang menanam surga di dalam hatimu, sebelum Allah menghadirkannya sebagai surga di akhiratmu.” [DW]
Sumber: Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj





