PERILAKU sebagian laki-laki yang cenderung menghindari konflik sering kali dianggap sebagai sikap tidak berani menghadapi masalah.
Namun, dalam banyak kasus, hal tersebut tidak selalu berkaitan dengan karakter bawaan, melainkan hasil dari proses pembentukan sejak masa kanak-kanak.
Dikutip dari Fatherman, pola asuh dan cara anak belajar mengelola emosi memiliki pengaruh besar terhadap cara mereka merespons konflik di masa dewasa.
Dalam Journal of Family Psychology, anak laki-laki cenderung lebih sering didorong untuk menekan atau mengabaikan ekspresi emosi dibandingkan anak perempuan.
Dalam banyak lingkungan keluarga, ketika anak laki-laki menunjukkan kesedihan, mereka diminta untuk diam; ketika marah, mereka dimarahi balik; dan ketika takut, mereka sering kali diledek atau dianggap lemah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pola respons seperti ini secara tidak langsung membentuk pemahaman bahwa mengekspresikan emosi bukanlah hal yang aman.
Akibatnya, sebagian laki-laki tumbuh dengan strategi bertahan berupa menghindari konflik.
Ketika menghadapi masalah, mereka lebih memilih menjauh daripada berhadapan langsung, karena pengalaman masa kecil mengajarkan bahwa konflik sering berujung pada penolakan, kemarahan, atau rasa malu.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuat kemampuan komunikasi dan regulasi emosi menjadi kurang terlatih.
Mengapa Banyak Laki-laki Sering Lari dari Masalah? Ini Penjelasannya
Baca juga: Mengasuh Anak Laki-Laki di Tengah Tantangan Akhir Zaman, Begini Kata Praktisi Parenting Islam
Padahal, kemampuan menyelesaikan masalah dan mengelola emosi sebenarnya dapat dikembangkan sejak dini.
Anak laki-laki yang diberi ruang untuk berbicara, didengarkan tanpa dihakimi, serta diberikan contoh cara menyelesaikan konflik secara sehat, memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi individu yang mampu menghadapi masalah secara dewasa dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, kecenderungan menghindari masalah pada sebagian laki-laki tidak dapat disederhanakan sebagai kelemahan pribadi semata.
Faktor lingkungan, terutama pola asuh dan pendidikan emosional sejak kecil, memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara seseorang merespons konflik di masa dewasa.[Sdz]





