LUKA pengasuhan atau parenting wound merupakan kondisi psikologis yang dapat muncul pada anak akibat pengalaman negatif dalam proses pengasuhan.
Menurut pandangan psikolog dan konselor parenting, Hilman Al Madani (alm), luka ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan verbal maupun fisik, pengabaian emosional, kurangnya kasih sayang, kontrol yang tidak disertai pemahaman, hingga ucapan orang tua yang melukai perasaan anak.
Konsep ini sejatinya bukan hal baru. Dalam sastra spiritual, Jalaluddin Rumi telah menggambarkan bahwa luka batin dapat meninggalkan jejak mendalam dalam jiwa manusia.
Ia menekankan bahwa setiap luka menyimpan cerita batin yang kompleks dan dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dalam perspektif ajaran Islam, nilai kelembutan dalam mendidik juga ditekankan melalui keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dalam sebuah riwayat, beliau menunjukkan sikap penuh kasih ketika menghadapi kejadian yang berpotensi melukai perasaan seorang bayi, dengan menegaskan pentingnya menjaga perasaan anak dalam setiap interaksi.
Fenomena luka pengasuhan dapat berdampak jangka panjang, seperti munculnya trauma, hambatan emosional (mental block), hingga pengalaman masa kecil yang terbawa hingga dewasa.
Tidak semua pengalaman buruk akan menjadi luka psikologis, namun ketidakmampuan mengelola emosi dalam proses pengasuhan dapat memperbesar risikonya.
Baca juga: 16 Tanda Pengasuhan Orang Tua yang Buruk
Luka Pengasuhan: Jejak Emosi yang Tak Terlihat pada Anak
Karena itu, refleksi diri menjadi penting bagi orang tua. Dalam beberapa pandangan parenting, dianjurkan untuk melakukan introspeksi ketika anak menunjukkan perilaku yang sulit dipahami.
Pendekatan yang dianjurkan meliputi mendengarkan anak secara aktif, memberikan ruang ekspresi emosi, serta mengakui kesalahan jika terjadi kekeliruan dalam pengasuhan.
Dengan pendekatan yang lebih empatik, luka pengasuhan dapat diminimalkan, bahkan diperbaiki melalui komunikasi yang sehat dan pemulihan hubungan emosional.
Tujuannya adalah membangun lingkungan tumbuh kembang yang lebih aman secara psikologis, sehingga anak dapat berkembang tanpa beban luka batin yang berkepanjangan.
Semoga Allah Sang Pembolak balik hati berenan menjernihkan kembali jiwa-jiwa yang terluka, aamiin.[Sdz]




