PERUBAHAN zaman yang begitu cepat membawa tantangan besar bagi generasi muda, khususnya Gen-Z.
Berdasarkan refleksi pengalaman panjang, Dr. Abdul Karim Bakkar, seorang pemikir Islam, yang telah menyaksikan pergantian generasi selama lebih dari tujuh dekade, terlihat bahwa tekanan yang dihadapi anak muda hari ini bukan hanya bersifat eksternal, tetapi juga menyentuh inti kepribadian dan kesadaran diri.
Ada enam faktor utama yang membuat Gen-Z menjadi rentan dalam menghadapi kehidupan.
Pertama, keterputusan dari sumber spiritual. Ketika manusia menjauh dari Allah, ia kehilangan pusat ketenangan batinnya.
Kekayaan, popularitas, dan pencapaian duniawi tidak mampu menggantikan kekosongan jiwa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kekuatan sejati justru lahir dari kedekatan dengan Sang Pencipta, karena di sanalah stabilitas dan makna hidup bermula.
Kedua, ketergantungan pada pengakuan manusia. Mengukur nilai diri dari pujian, “like”, atau komentar orang lain membuat identitas menjadi rapuh.
Pribadi yang kokoh adalah mereka yang mampu berdiri dengan keyakinannya sendiri, meskipun tidak selalu mendapat persetujuan lingkungan.
Ketiga, kebiasaan menunggu suasana hati untuk bertindak. Kesuksesan tidak dibangun oleh motivasi sesaat, melainkan oleh disiplin yang konsisten.
Enam Faktor yang Membuat Gen-Z Rentan
Menunda pekerjaan karena menunggu mood hanya akan menghambat pertumbuhan dan menyia-nyiakan potensi.
Keempat, kecanduan distraksi digital. Arus notifikasi dan hiburan tanpa henti mencuri fokus dan daya pikir.
Tanpa kemampuan mengendalikan teknologi, seseorang akan kesulitan mengarahkan masa depannya sendiri.
Kelima, terlalu menekankan penampilan dibanding substansi. Gaya hidup dan simbol kemewahan tidak dapat menggantikan kedalaman intelektual.
Pengetahuan dan kecerdasanlah yang memberi nilai dan martabat jangka panjang.
Baca juga: Terinspirasi Demo Indonesia, Gen-Z Nepal Paksa PM dan Presiden Mundur
Keenam, dorongan pada kepuasan instan. Budaya serba cepat membuat banyak orang lupa bahwa proses pengembangan diri membutuhkan waktu.
Kesabaran dan ketekunan adalah kunci bagi pencapaian besar.
Pada akhirnya, kekuatan sejati terletak pada kemampuan mengendalikan diri dan membangun diri dari dalam.
Ketika fondasi internal kuat, dunia luar akan lebih mudah dihadapi.[Sdz]





