WANITA tidak selalu lemah. Justru, ia bisa lebih kuat dan tegar dari pria ketika berjuang membela Islam.
Ada seorang muslimah di masa Nabi yang begitu berjasa dalam peristiwa hijrah Nabi ke Madinah. Ia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Namanya Asma radhiyallahu ‘anha.
Ketika ayahnya sudah mengatur cara aman berhijrah Nabi ke Madinah, Asma kerap menjaga rencana itu dengan baik.
Segalanya sudah disiapkan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mulai dari pembagian tugas anak-anaknya, lokasi persembunyian sebelum berangkat, dan pemandu yang sudah disiapkan.
Asma saat itu sedang hamil tua. Tapi, ia anak sulung yang memiliki kedekatan perjuangan dengan ayahnya bersama Nabi. Karena itu, ia tak akan melewatkan persiapan hijrah Nabi ke Madinah.
Saat itu, kurang lebih sekitar 14 hari sebelum kelahiran anak pertamanya. Perutnya yang sudah terasa berat ia ikat dengan selendang khusus. Bahkan, selendang itu ia sobek menjadi dua bagian: satu untuk ikat pinggangnya, satunya lagi untuk mengikat perbekalan yang akan dibawa ayah dan Nabi untuk berhijrah.
Pada akhir bulan Safar, Nabi dan Abu Bakar sudah bersembunyi di Gua Tsur. Lokasinya di selatan Mekah. Hal ini mengecoh kaum Quraisy yang mengira Nabi langsung berangkat ke utara menuju Madinah.
Beberapa malam Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di situ. Saat itulah, Asma dan adiknya: Abdullah menyiapkan segalanya. Mulai dari suplai bekal, hingga pengalihan perhatian demi keamanan Nabi.
Pernah Abu Jahal curiga dengan gerak-gerik Asma yang tetap keluar rumah meski sudah hamil tua. Sementara, petinggi Quraisy saat itu sudah kehilangan jejak Nabi dan Abu Bakar.
Abu Jahal menanyakan dimana Abu Bakar berada. Tapi, Asma tidak mau menjawab. Karena kesal, Abu Jahal menampar wajah Asma sedemikian kerasnya hingga antingnya lepas.
Rahasia tentang Nabi dan Abu Bakar yang bersembunyi pun tetap aman. Keduanya melalui pemandu berangkat ke Madinah pada awal Bulan Rabiul Awal. Kemudian, Asma dan keluarga Abu Bakar ikut berangkat hijrah beberapa sesudahnya.
Perjalanan Nabi dan Abu Bakar begitu singkat. Kurang lebih tidak sampai sepuluh hari, mereka sudah tiba di Quba, sebuah tempat yang berada di pinggiran Madinah.
Di situlah, Nabi, Abu Bakar kembali bertemu dengan Asma dan suaminya: Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu. Zubair sudah menyiapkan baju baru warna putih untuk dipakai Rasulullah dan Abu Bakar demi untuk menjumpai rakyat Madinah.
Dan di tempat itu pula, Asma akhirnya melahirkan. Anaknya laki-laki. Namanya Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu.
Nabi sempat menggendong sang bayi. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengunyahkan kurma untuk dicicipi sang bayi. Inilah kelahiran pertama kaum Muhajirin di Madinah.
Tentang selendang atau ikat pinggang yang disobek menjadi dua oleh Asma, Nabi memberikan perhatian tersendiri. Nabi mendoakan hal itu akan menjadi hadiah khusus Asma di surga nanti.
**
Secara fisik, wanita memang lebih lemah dari laki-laki. Tapi, tidak semua hal menjadikan wanita menjadi lebih lemah dari laki-laki. Ada azam di hati, ada mentalitas, ada semangat, dan ada pengorbanan.
Sulit membayangkan, ada wanita hamil tua begitu aktif mondar-mandir di daerah perbukitan tandus yang begitu terik seorang diri. Bahkan, siap mengorbankan nyawanya jika saja kepergok musuh.
Hamilnya saja sudah begitu sangat berat. Terlebih lagi dengan mengemban tugas yang begitu riskan dan berbahaya.
Jadi, jangan anggap wanita tidak bisa lebih kuat dan tegar dari laki-laki dalam berjihad. Justru, bisa sebaliknya. [Mh]




