FENOMENA ‘kemenangan’ Iran terhadap perang hampir lima pekan di Timteng, menjadi sorotan tersendiri. Bagaimana mungkin negara yang diembargo 47 tahun, bisa tampil begitu prima melawan musuh-musuhnya.
Iran akhirnya sukses menunjukkan kemampuan dirinya. Meski dikeroyok negara-negara super power, tapi bisa bertahan lebih dari sebulan serangan bertubi-tubi.
Apa rahasianya?
Satu, adanya kepemimpinan yang meneladani
Kepemimpinan merupakan hal utama sebuah organisasi, bangsa, dan negara. Tanpa kepemimpinan yang baik, segalanya bisa hancur berantakan.
Salah satu yang dimiliki Iran dan tidak dimiliki bangsa lain adalah adanya kepemimpinan yang mampu memberikan teladan baik. Baik di hampir segala hal.
Mulai dari idealisme, kesederhanaan, rasa cinta dengan rakyat, ketulusan dalam memimpin, dan tentu saja kemampuan yang memadai.
Selama hampir setengah abad itu, Iran begitu sukses dipimpin oleh kaum mullah. Yaitu, kepemimpinan Khameini.
Di Iran, kepemimpinan Khamaeni itu tak ubahnya sebagai kepemimpinan ulama dan sekaligus sebagai umara.
Kedua, adanya cita-cita bersama untuk melawan musuh besar yang sama.
Sejak revolusi Islam Iran pada tahun 1979, Iran sudah memantapkan konsep negaranya yang khusus. Meskipun hal itu akan diserang oleh penguasa dunia seperti Israel dan Barat.
Benar saja. Satu tahun setelah sukses menyatakan sebagai Negara Islam di Iran, Barat langsung menyerang Iran melalui ‘tangan’ Irak: Saddam Husein.
Perang besar pun terjadi sejak tahun 1980. Dan perang keroyokan itu pun bisa bertahan hingga 8 tahun. Hingga selama itu, Iran tak juga bisa dijatuhkan.
Setelah gagal mengalahkan Iran, Barat kembali merampas kekuatan Saddam Husein yang ditakutkan akan menjadi bumerang di kemudian hari.
Bukan itu saja. Barat pun menjatuhkan seribu satu sanksi untuk Iran. Termasuk embargo ekonomi. Siapa pun yang berani menjalin hubungan ekonomi akan mereka hukum.
Namun, justru hal itu menjadikan Iran menjadi piawai dalam menghadapi musuh bersama mereka. Bahkan meskipun berkali-kali dirongrong oleh kekuatan dari dalam.
Iran justru tumbuh dan berkembang sebagai bangsa yang mandiri, dalam hampir semua hal: industri, ekonomi, keuangan, pangan, teknologi, militer, dan lainnya.
Tiga, perpaduan sinergis antara agama, ilmu, dan amal.
Meskipun berbeda dengan Sunni, Islam di Iran berkembang begitu pesat. Mereka begitu piawai mensinergikan tiga kekuatan: Islam, ilmu, dan amal.
Sinergi itu tidak tumbuh begitu saja secara alami. Melainkan, dikelola dengan begitu telaten melalui mekanisme politik dan pertahanan negara. Sehingga, tidak bisa sembarang kekuatan ‘nyelonong’ menjadi pemimpin negara.
Bisa dibilang, sistem kaderisasi dan pembinaan keislaman di Iran menyatu dalam pembinaan keilmuan dan amal di berbagai hal. Jadi, siapa pun yang menjadi presiden, gubernur, pemimpin militer; tetap berada dalam orbit kepemimpinan tertinggi di Iran.
Jangan lupa, di balik kekuatan intelektual Nato dan militer Barat di era 80-an, ada tokoh-tokoh intelektual Iran di situ. Dan ketika mereka semua ditarik ke ‘kandang’, semua teknologi barat khususnya militer sudah tersedot ke dalam negeri Iran.
Empat, Iran sukses menjaga koalisi permanen dengan lawan-lawan Barat.
Sejak awal, Iran sudah begitu piawai menempatkan diri di aliansi dunia. Iran tidak asal melakukan aliansi. Melainkan disesuaikan dengan musuh besar mereka: Israel dan Barat.
Tidak heran jika Iran selalu setia beraliansi dengan Rusia, Cina, dan Korea Utara. Ketiganya merupakan kekuatan tandingan Barat dalam perlombaan penguasaan dunia.
Dalam persenjataan canggih, Iran memaklumi kalau ia tidak bisa berdiri sendiri. Ia butuh kekuatan lain di luar negerinya. Dan hal itu ia dapatkan di negara-negara aliansi itu. Tentu dengan kemitraan yang saling menguntungkan, senasib dan sepenanggungan. [Mh]


