UJIAN hidup itu terasa berat. Padahal, ujian itu sudah sesuai dengan takaran kemampuan kita.
Ada anekdot menarik tentang ujian kemampuan seseorang.
Dari sebuah perahu penumpang, ada seorang ibu yang tercebur ke sungai. Entah apa sebabnya, korban sudah berada di dalam sungai. Gerakan tubuhnya begitu acak. Sang ibu sepertinya tidak bisa berenang.
Para penumpang lain bergegas melihat keadaan korban dari dek kapal. Tapi, tak satu pun yang berani menceburkan diri ke sungai untuk menolong.
Kenapa? Karena sungai besar itu bukan sekadar dalam, melainkan juga banyak dihuni buaya besar yang ganas.
Jadi, meskipun ada yang pandai berenang, siapa pun akan berpikir dua kali terjun ke sungai untuk menolong korban.
Di saat genting itu, tiba-tiba ada seseorang yang terjun ke sungai dengan pakaian lengkap: baju, celana, bahkan topi. Aneh!
Awalnya, orang itu terlihat berenang bukan ke arah korban. Tapi, kembali ke sekoci kapal. Sebelum ia tiba di sekoci kapal, si penerjun nekat itu begitu cekatan menolong korban. Ia dan korban akhirnya selamat.
Ketika berada di atas dek kapal, si pemberani itu dipuji banyak orang: hebat!!!
Anehnya, ia hanya terdiam di tengah banyak teriakan pujian itu. Tiba-tiba, ia berbicara agak keras, “Sebenarnya, siapa yang mendorong tubuh saya hingga tercebur ke sungai?”
Dari ucapannya itu, semua orang tersadar kalau si pemberani itu tidak sengaja menolong korban. Ia melompat ke sungai lebih karena tubuhnya didorong seseorang hingga tercebur ke sungai. Karena sudah terlanjur tercebur, ia pun terpaksa menolong korban.
**
Betapa banyak kesulitan hidup yang justru bisa diatasi karena keadaan yang memaksa. Jadi, bukan karena kemampuan, bukan karena perencanaan, tapi karena keterpaksaan.
Apa pun keadaan yang memaksanya untuk ‘berjuang’, ujungnya sama: masalah bisa diatasi.
Dengan kata lain, tidak sedikit dari kita yang akhirnya bisa mengatasi keruwetan masalah hidup karena keadaan yang memaksa. Dicoba, dan akhirnya memang bisa.
Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Justru karena ujian hidup yang Allah bebankan itu, seseorang akhirnya menyadari bahwa dirinya sebenarnya bisa. [Mh]


