IBU dan ayah itu manusia paling utama untuk dihormati. Bahkan, lebih diutamakan dari ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala.
Kalau ada di antara kita yang bertanya: lebih utamakan mana, menyambut panggilan ibu atau tetap dalam shalat? Hati-hati, jika salah jawab, kita bisa sengsara.
Ada kisah menarik tentangorang soleh yang hidup di masa sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebegitu solehnya, ia membangun masjid khusus di tempat sunyi untuk bisa bernikmat-nikmat dalam ibadah.
Orang soleh itu bernama Juraij. Ketika sedang khusyuk dalam shalat, dari luar bangunan masjid, suara ibunya terdengar memanggil: “Juraij!”
Ia bimbang antara menyahut panggilan ibunya atau tetap dalam shalat. Dan Juraij pun memutuskan untuk terus shalat.
Ibunya memanggilnya lagi untuk yang kedua kalinya: “Juraij!” Lagi-lagi ia bimbang antara menyahut atau meneruskan shalat. Tapi, ia tetap meneruskan shalat.
Ibunya memanggilnya lagi untuk yang ketiga kalinya: “Juraij!” Lagi-lagi, ia tetap meneruskan shalatnya.
Terdengar ibunya mengatakan, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu sebelum wajahmu diperlihatkan di tengah pelacur!”
Tak jauh dari masjidnya, ada seorang wanita yang berzina dengan seorang penggembala. Singkat cerita, wanita itu pun hamil dan melahirkan.
Warga satu kerajaan pun heboh: siapa laki-laki yang menzinahi wanita desa itu? Kasus itu pun dilaporkan ke Raja.
Wanita dan bayi itu dihadapkan ke Raja dan menjelaskan kalau laki-laki yang menzinahinya adalah Juraij, orang soleh yang dikenal punya tempat ibadah khusus.
Jawaban wanita ini pun membuat Raja dan warga marah. Mereka menangkap Juraij dan menghancurkan tempat ibadahnya yang dituduh tempat mesum.
Di sepanjang jalan menuju istana, Juraij dikurung dan diperlihatkan wajahnya ke para pelacur. Saat itulah Raja melihat Juraij tersenyum.
Setibanya di istana, Juraij bertanya ke Raja: siapa yang menuduh saya berzina?
Raja mempertemukan Juraij dengan wanita dan bayinya. “Wanita itu telah mengaku kalau Andalah yang menzinahinya!” ucap Raja. Wanita itu membenarkan.
“Bisakah saya bertemu dengan bayi itu?” tanya Juraij.
Raja pun menunjuk ke arah bayi yang sedang dalam pangkuan wanita itu.
Saat itulah, Juraij mendekati si bayi. Tiba-tiba ia mengatakan, “Siapa laki-laki yang menjadi ayahmu?” Tiba-tiba pula, bayi itu bisa menjawab, “Penggembala!”
Sontak, Raja dan seluruh warga istana terperanjat mendapati pemandangan itu. Semuanya meminta maaf ke Juraij. Bahkan, Raja menawarkan untuk membangunkan kembali masjid Juraij dengan bahan emas atau perak.
Namun, Juraij menolaknya. Ia hanya minta masjidnya dibangunkan kembali seperti semula.
Raja tiba-tiba teringat sesuatu: “Oh iya. Tadi ketika di hadapan pelacur, Anda tiba-tiba tersenyum. Ada apa?”
Saat itulah, Juraij menceritakan semua yang ia alami dengan ibunya, saat ia sedang menunaikan shalat. (Disarikan dari Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)
**
Sepanjang sejarah umat manusia, hanya ada tiga bayi yang bisa bicara: Nabi Isa alaihissalam saat ia masih bayi, bayinya Masyithah yang memberikan dukungan ke ibunya saat ia ragu berhadapan dengan Firaun, dan bayi yang membela Juraij.
Kisah ini juga memberikan pelajaran bahwa bakti kepada orang tua, khususnya ibu, harus diutamakan daripada shalat atau ibadah lainnya. Tentu selama tidak meninggalkan ibadah itu sendiri.
Kalau Allah yang Maha Raja Diraja saja begitu menghormati ayah dan ibu kita, apatah lagi kita sendiri yang sudah begitu banyak berhutang budi padanya. [Mh]





