PEKERJAAN harus diserahkan pada ahlinya. Meskipun, ia non muslim.
Ada yang menarik dari perjalanan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mempercayakan juru pandu perjalanan kepada non muslim. Namanya Abdullah bin Uraiqith atau Ibnu Uraiqith.
Penunjukkan ini tergolong unik. Kenapa? Bagaimana mungkin sebuah perjalanan begitu rahasia dipimpin oleh non muslim. Selain itu, ini juga menyangkut hal yang sangat penting: nyawa Nabi dan Abu Bakar.
Hal ini karena Nabi dan Abu Bakar sudah meyakini profesionalitas Ibnu Uraiqith. Ia dibayar sesuai kesepakatan dan menjamin perjalanan akan aman.
Rute perjalanannya juga unik. Nabi dan Abu Bakar menunggu Ibnu Uraiqith di Gua Tsur. Gua ini terletak di selatan Ka’bah, jaraknya 7 kilometer. Padahal, arah Madinah ada di utara.
Setelah itu, Ibnu Uraiqith menempuh rute sebelah barat, atau lebih dekat ke pesisir Laut Merah. Padahal, jalan normalnya ada di tengah. Jadi, Ibnu Uraiqith menempuh rute yang tidak biasa. Hanya orang-orang tertentu yang tahu rute itu.
Meski begitu, mereka tiba sebelah barat Madinah: Quba, dengan waktu tempuh yang tidak jauh berbeda dengan rute normalnya. Yaitu, selama 8 hari dengan jarak Mekah dan Madinah sekitar 400 kilometer.
Nabi tidak langsung menuju Madinah. Melainkan, singgah sekitar 4 hari di Quba. Di sana, Nabi bahkan sempat mendirikan masjid.
**
Islam mengajarkan bahwa tugas atau pekerjaan harus diserahkan kepada ahlinya. Meskipun, ia non muslim. Tentu, mereka yang dijamin bekerja secara profesional.
Mungkin kita bertanya-tanya: kenapa perjalanan Hijrah dipandu oleh non muslim? Tidakkah itu membahayakan? Dan seterusnya.
Selain karena tuntutan profesionalisme yang bisa melewati batas agama, hal ini juga mengecohkan kaum kafir Quraisy: tidak mungkin Nabi menggunakan jasa non muslim.
Dalam hal muamalah, demi tuntutan profesionalisme, tidak ada salahnya jika menggunakan jasa non muslim. Meskipun tidak berarti mengenyampingkan yang muslim atau yang satu visi dakwah. [Mh]





