KEPEKAAN merupakan rahasia sukses seorang pemimpin. Ia mampu menyelami keadaan di bawahnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan teladan sempurna bagi pemimpin. Beliau mampu menyelami problem, potensi, dan kelemahan umatnya.
Ketika tiba pertama kali di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencerna tiga masalah besar di Madinah. Yaitu, potensi perpecahan, kemiskinan, dan kebodohan.
Untuk masalah yang pertama, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil perwakilan Muhajirin dan Anshar, masing-masing 45 orang. Nama-nama yang dipanggil sudah terdaftar siapa saja.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bertugas memanggil semua yang ada di daftar. Semuanya penasaran gerangan apa Nabi memanggil mereka.
Ternyata, Nabi mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Mempersaudarakan ini bukan sekadar untuk menjalin ukhuwah. Melainkan juga untuk mensinergi potensi masing-masing.
Rata-rata kaum Anshar adalah petani. Mereka memproduksi barang, tapi tidak paham bagaimana menjualnya. Sementara itu, kaum Muhajirin rata-rata pedagang. Mereka tidak bisa memproduksi barang, tapi mahir menjualnya. Inilah di antara sinergi yang terjadi.
Langkah kedua Nabi, membangun pasar. Hal ini dimaksudkan agar terjadi pengentasan kemiskinan. Selama ini, roda ekonomi Madinah dikuasai Yahudi. Semua pasar mereka kuasai. Inilah cara Nabi mengalihkan ekonomi Madinah dari Yahudi ke umat Islam.
Di antara strateginya, di pasar baru ini tidak ada sewa lapak atau outlet. Yang ada bagi hasil. Berapa pun penghasilan pedagang, mereka tetap masih bisa berdagang untuk waktu selanjutnya.
Langkah ini begitu efektif ‘menggembosi’ kekuatan ekonomi Yahudi di Madinah. Sinergi Muhajirin dan Anshar di pasar pun akhirnya menjadikan muslim Madinah menjadi kaya.
Ketiga, tentang kebodohan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membangun sebuah komunitas tersendiri yang disebut Ahlus Suffah. Artinya, komunitas yang menetap di pekarangan Masjid Nabawi.
Di belakang masjid, Nabi membangun tenda-tenda untuk tempat tinggal. Orang-orang yang tinggal di sini merupakan orang-orang khusus yang fokus di bidang keilmuan, ibadah, dan zikir.
Tentang kebutuhan hidup mereka dijamin oleh Nabi. Mulai dari makan dan minum, pakaian, dan lainnya. Yang penting, mereka kelak siap menjadi ‘lidah penyambung’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Di antara mereka Ahlus Suffah ini adalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Meski hanya sekitar tiga tahun hidup bersama Nabi, Abu Hurairah menjadi ulama yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi.
Analoginya, Ahlus Suffah mirip seperti para santri yang menetap di pesantren. Mereka tidak memikirkan ‘dunia luar’, hanya fokus dalam keilmuan dan ibadah.
Dari tiga langkah inilah, Madinah akhirnya berkembang menjadi pusat pemerintahan dunia Islam di masa awalnya. Dan kelak, menjadi teladan untuk pembangunan wilayah berikutnya.
**
Siapa pun yang memiliki karakter kepemimpinan yang baik selalu berada di depan. Bukan untuk menjadi yang memiliki pertama kali. Tapi untuk yang membagikan pertama kali.
Bukan pula untuk menjadi yang disanjung-sanjung pertama kali. Tapi untuk yang merasakan kesusahan dan kebahagiaan bawahannya pertama kali.
Bukan juga untuk menjadi yang bisa ‘kabur’ pertama kali. Tapi untuk yang bisa membentengi bawahannya pertama kali.
Semangat seorang pemimpin yang baik itu satu: apa yang bisa kuberikan untuk mereka, bukan apa yang bisa mereka berikan untukku. [Mh]



