ORANG tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sayangnya, adab tidak menjadi pilihan utama.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik.” (HR. At-Tirmidzi)
“Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya diberi buah yang pertama kali keluar, maka beliau pun berdoa: Ya Allah, berkahilah Madinah kami, pada buah-buahan kami, pada Mudd kami, pada Sha’ kami, dengan keberkahan yang melimpah.
Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberikannya kepada anak yang paling kecil di antara yang hadir di situ.” (HR. Muslim)
**
Ada seorang konglomerat yang tersadar tentang anaknya: “Apa pun bisa aku beli untuk kepuasan hati. Tapi, aku tidak bisa membeli kesuksesan mendidik anak menjadi baik.”
Jangan salah cerna tentang ungkapan sayang pada anak. Yang utama buat mereka bukan sarana hidup yang memadai. Bukan sekadar ungkapan kasih sayang yang memanjakan. Melainkan, adab yang baik.
Adab itu seperti obat pahit untuk orang sakit. Harus dipaksa untuk diminum meski seolah menyakitinya. Pahitnya sebentar, tapi sehatnya untuk selamanya.
Orang tualah yang menjadi pengendali untuk anak demi kebaikannya. Bukan justru sebaliknya. [Mh]