DI TENGAH kehidupan yang semakin sibuk, kita sering merasa bahwa waktu 24 jam dalam sehari masih saja kurang. Pekerjaan, keluarga, urusan rumah, media sosial, hingga berbagai target pribadi membuat hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa sadar, ada hal-hal penting yang justru sering tidak mendapatkan tempat: waktu untuk mendekat kepada Allah, mengevaluasi diri, berkumpul dengan orang yang tulus, dan sekadar menikmati hidup dengan cara yang baik.
Ada nasihat menarik yang dinisbatkan kepada Wahb bin Munabbih tentang hikmah keluarga Nabi Dawud AS. Di dalamnya disebutkan bahwa orang yang berakal hendaknya tidak melalaikan empat waktu: bermunajat kepada Allah, menghisab diri, bersama saudara yang jujur memberikan nasihat, serta menikmati sesuatu yang halal dan baik.
Baca Juga: Selesaikan Dirimu Sendiri Sebelum Sibuk Memikirkan Orang Lain
Empat Waktu yang Jangan Sampai Hilang dalam Hidupmu
1. Waktu untuk Bermunajat kepada Allah
Ada saatnya kita perlu berhenti mengejar urusan dunia dan memberikan waktu sepenuhnya kepada Allah. Tidak harus selalu dalam waktu yang panjang. Beberapa menit untuk berdoa setelah shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau bangun pada malam hari untuk mengadu kepada-Nya pun sangat berarti.
Munajat menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan, rasa syukur, harapan, bahkan hal-hal yang sulit diceritakan kepada manusia. Ketika hati mulai terasa berat, mengingat bahwa kita memiliki tempat untuk bersandar dapat memberikan ketenangan tersendiri.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
2. Waktu untuk Bermuhasabah
Manusia bisa saja sibuk memperbaiki keadaan di luar dirinya, tetapi lupa melihat apa yang terjadi di dalam hati. Karena itu, muhasabah diperlukan agar kita tidak berjalan tanpa arah.
Cobalah sesekali bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah saya lakukan hari ini? Apakah ada perkataan yang menyakiti orang lain? Apakah ibadah saya semakin baik? Apa yang perlu diperbaiki?
Muhasabah bukan berarti terus menyalahkan diri. Justru, kegiatan ini membantu kita mengenali kekurangan dan memperbaikinya sedikit demi sedikit. Konsep menghisab diri juga dikenal dalam nasihat para ulama sebagai salah satu cara agar seseorang lebih berhati-hati sebelum datang pertanggungjawaban di akhirat.
3. Waktu Bersama Orang-Orang yang Jujur
Tidak semua orang di sekitar kita berani mengatakan kebenaran. Ada yang hanya menyampaikan apa yang ingin kita dengar. Padahal, teman yang mampu mengingatkan kesalahan dengan cara yang baik justru sangat berharga.
Luangkan waktu bersama orang-orang yang tulus. Bukan sekadar untuk bercanda atau berbagi cerita, tetapi juga untuk saling mengingatkan. Nasihat yang jujur terkadang memang terasa pahit, tetapi bisa menjadi jalan bagi kita untuk menyadari kekurangan yang sebelumnya tidak terlihat.
4. Waktu untuk Menyendiri dan Menikmati Hal yang Halal
Menikmati hidup bukan berarti harus selalu mengejar kesenangan berlebihan. Ada waktunya kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk beristirahat dan menikmati sesuatu yang halal serta baik.
Membaca buku, berjalan santai, menikmati makanan kesukaan, berkebun, minum teh, atau sekadar duduk tenang tanpa terus melihat layar ponsel bisa menjadi bentuk jeda. Dalam nasihat Wahb bin Munabbih, waktu menikmati sesuatu yang halal dan baik justru disebut dapat membantu seseorang menjalani tiga waktu lainnya serta memberikan penyegaran bagi hati.
Empat waktu ini mengajarkan bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Ada keseimbangan antara hubungan dengan Allah, hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, dan kebutuhan untuk beristirahat.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari waktu luang. Padahal, waktu untuk hal-hal penting memang perlu sengaja dibuat. Sebab hati juga membutuhkan jeda. Jangan sampai hidup terlihat penuh aktivitas, tetapi kosong dari ketenangan dan kedekatan kepada Allah. [DW]
Sumber: Instagram dr. Zaidul Akbar





