PERKEMBANGAN riset mengenai skin microbiome terus memperluas pemahaman mengenai peran microbiome dalam mendukung fungsi skin barrier pada berbagai kondisi kulit.
Hal ini tercermin dalam tiga studi klinis yang dipresentasikan LABORÉ pada PIT XXI PERDOSKI 2026 di Yogyakarta pada 7 Agustus 2026, yang mengevaluasi pendekatan berbasis microbiome pada atopic dermatitis, psoriasis vulgaris, serta pemulihan kulit setelah tindakan fractional Er laser.
Ketiga studi tersebut dilakukan melalui kemitraan dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), RSUD Dr. Soetomo, dan Dermalogia. Rangkaian penelitian ini menjadi bagian dari pembahasan dalam simposium Synbiotics for Skin Resilience: Clinical Evidence on Barrier Repair, Microbiome Balance, and Skin Recovery, yang membahas peran synbiotic dalam mendukung ketahanan dan pemulihan kulit berdasarkan evaluasi klinis.
Dalam rangkaian studi tersebut, LABORÉ menggunakan platform teknologi 3X-SYNBIOTICS yang memadukan komponen pendukung microbiome, seperti postbiotic, prebiotic, dan paraprobiotic, dengan bahan aktif tertentu.
Teknologi ini dikembangkan berdasarkan lebih dari 25 tahun riset microbiome LABORÉ dan ditujukan untuk mendukung fungsi skin barrier serta keseimbangan microbiome kulit.
Studi pertama yang dipimpin oleh Dr. dr. Menul Ayu Umborowati, Sp.DVE., Subsp. DAI., dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mengevaluasi penggunaan LABORÉ BiomeRepair™ Barrier Revive Cream pada pasien dengan atopic dermatitis ringan hingga sedang.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan produk sebagai pelembap untuk kulit sensitif membantu meningkatkan hidrasi, mengurangi pengelupasan, dan meningkatkan kenyamanan kulit.
Evaluasi tersebut juga tidak menunjukkan gangguan terhadap mikroorganisme yang bermanfaat maupun potensi iritasi yang signifikan secara klinis.
Dr. Menul menjelaskan bahwa keluhan gatal merupakan salah satu gejala utama pada atopic dermatitis. Menurutnya, pendekatan yang memadukan 3X-SYNBIOTICS dan antiinflamasi dalam moisturizer dapat membantu mengurangi keluhan tersebut sekaligus mendukung proses pemulihan alami kulit dan fungsi skin barrier.
Baca juga: Penyakit Psoriasis Pengaruhi Kondisi Kulit Sekaligus Kualitas Hidup Penderitanya
Perkembangan Riset Skin Microbiome Dukung Fungsi Skin Barrier di Berbagai Kondisi Kulit
Studi kedua dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Cita Rosita S. Prakoeswa, Sp. DVE., Subsp. DAI., FINSDV, FAADV, M.A.R.S., dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penelitian ini mengevaluasi BiomeRepair™ TopiCalm Cream pada psoriasis vulgaris dengan membandingkannya dengan pelembap konvensional.
Dalam evaluasi tersebut, BiomeRepair™ TopiCalm Cream menunjukkan hasil yang lebih baik dalam membantu menurunkan tingkat keparahan penyakit yang tercermin dari penurunan skor Psoriasis Area and Severity Index (PASI). Hidrasi kulit juga meningkat secara progresif, mencapai 2,05 kali setelah 14 hari dan 5,26 kali setelah 28 hari.
“Pada psoriasis, kami menghitung PASI lengan karena hanya diberikan pada area tersebut. Kalau kita lihat ini semuanya turun signifikan pada kelompok microbiome. Kemudian pada hidrasi, tampak pada kelompok microbiome jauh lebih meningkat dibandingkan non-microbiome,” ujar Prof. Cita.
Sementara itu, studi ketiga yang dipimpin oleh dr. Arini Widodo, SM, Sp. DVE., FINSDV, bersama Dermalogia mengkaji pemulihan kulit setelah tindakan fractional Er:YAG laser.
Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan LABORÉ BiomeRepair™ TopiCalm Cream pada satu sisi wajah peserta dan plasebo pada sisi lainnya, dengan penilaian klinis dilakukan tanpa mengetahui sisi perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan eritema sebesar 90% setelah tujuh hari. Setelah 14 hari, sebanyak 85% peserta mencapai perbaikan klinis yang signifikan.
Temuan ini mendukung evaluasi lebih lanjut mengenai penggunaan pendekatan berbasis microbiome dalam perawatan kulit selama masa pemulihan pascatindakan laser, ketika kemerahan, sensitivitas, dan gangguan fungsi skin barrier menjadi perhatian.
Rangkaian studi tersebut menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis microbiome terus dieksplorasi dalam berbagai konteks perawatan kulit, mulai dari kondisi kulit sensitif dan inflamasi hingga pemulihan setelah tindakan dermatologi.
Bagi LABORÉ, pengembangan berbasis riset menjadi bagian dari upaya menerjemahkan pemahaman mengenai microbiome ke dalam solusi perawatan kulit yang didukung oleh evaluasi klinis. [Din]





