SURATAN takdir sudah Allah tentukan pada setiap hal. Termasuk untuk diri dan keluarga kita.
Ada yang menarik di akhir perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada Bulan Zulhijah tahun kedelapan hijriyah, lahir putra beliau yang diberi nama Ibrahim. Sebuah nama yang merujuk pada bapak para Nabi: Nabi Ibrahim alaihissalam.
Ibrahim lahir dari seorang ibu bernama Mariah Al-Qibthiyah, seorang istri Nabi yang berasal dari wilayah Mesir.
Betapa bahagianya hati Nabi dengan kelahiran seorang putra itu. Jika akan berangkat ke tempat jauh, Nabi selalu menyempatkan diri untuk menengoknya. Begitu pun ketika pulangnya.
Sebagaimana tradisi Arab, Ibrahim pun mengalami pengasuhan oleh seorang ibu yang masih akrab dengan kehidupan Arab: bahasa, tradisi, dan lainnya. Nama ibu asuh Ibrahim yaitu Ummu Sayf.
Namun siapa sangka, di saat sedang ‘lucu-lucu’nya, Ibrahim jatuh sakit. Usianya saat itu sekitar satu tahun delapan bulan. Mungkin, seukuran bayi yang sedang semangatnya belajar berjalan dan bicara.
Ibunya, Mariyah, dan bibinya, Sirin, merawat Ibrahim dengan sepenuh daya dan rasa. Keduanya hampir dua puluh empat jam sehari merawat Ibrahim yang sakit.
Di saat sakit itu, Rasulullah ditemani Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu menjenguk Ibrahim. Saat itu, Rasulullah merasakan kalau sakit Ibrahim sudah sangat parah.
Seperti momen perpisahan, Rasulullah mengatakan, Wahai Ibrahim, kami sangat menyayangimu. Tapi, lisan kami tak mau mengucapkan sesuatu yang menyalahi ketentuan dan kehendak Allah subhanahu wata’ala.
Benar saja. Ibrahim wafat hanya beberapa hari setelah mengalami sakit parah. Saat itu, Rasulullah menangis. Air matanya tampak berlinang.
Rasulullah menegaskan bahwa air mata itu bukan sebuah penyesalan terhadap takdir Allah. Melainkan sebuah ungkapan cinta dari seorang ayah kepada putranya.
Ibrahim wafat di bulan Jumadil Awal tahun kesepuluh hijriyah. Atau, kurang lebih hampir satu tahun sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Rabiul Awal satu tahun setelahnya.
**
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tak mampu mengubah suratan takdir yang telah Allah tetapkan. Meskipun hal itu tidak diinginkan Rasulullah.
Begitu pun dengan kita semua. Kita tak akan pernah berdaya terhadap apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, untuk keluarga kita, atau untuk orang-orang yang kita cintai.
Nabi mengajarkan, ucapkanlah qadarullah! Apa yang Allah inginkan, maka terlaksanalah.
Jangan pernah berandai-andai dengan ucapan seandainya. Karena kata itu hanya akan membuka celah pintu untuk setan, yang membuat kita kecewa, marah, bahkan naudzubillah menggugat apa yang telah Allah takdirkan. [Mh]


