ORANG sabar disayang Tuhan. Tetaplah bersabar karena ada kemuliaan di balik kesabaran.
Ada seorang sahabat Nabi yang begitu disayang oleh Nabi sejak kecil. Namanya bahkan tercantum dalam Al-Qur’an. Padahal, tidak seorang pun sahabat Nabi yang mendapat kemuliaan itu. Ia adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu.
Zaid bin Haritsah mengalami hal buruk ketika masih kecil. Ketika dalam sebuah perjalanan bersama ibunya, bocah yatim dan ibunya ini diculik oleh segerombolan orang jahat. Keduanya pun dijual selayaknya para budak di zaman itu.
Ia dan ibunya pun diperdagangkan di sebuah pasar bernama Ukaz. Namun begitu, Sayyidah Khadijah membelinya di pasar itu. Dan Zaid akhirnya Allah pertemukan dengan manusia paling mulia: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Zaid begitu bahagia berada di keluarga yang begitu mencintainya. Ia bukan saja dimerdekakan oleh Nabi, bahkan diangkat sebagai anak. Sebuah kemuliaan yang luar biasa. Saat itu, usianya sekitar 8 tahun.
Kemuliaan Zaid kian bertambah ketika ayah angkatnya menjadi Nabi dan Rasul. Ia pun menjadi salah seorang yang pertama memeluk Islam setelah Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha.
Zaid pernah menemani Rasulullah berdakwah di Thaif. Berhari-hari bersama Nabi dalam perjalanan, dan ikut mengalami kesedihan ketika mereka diusir oleh warga Thaif.
Berkenaan dengan status anak angkat, Al-Qur’an meluruskan status hukum itu. Nama Zaid tidak bisa dinisbatkan kepada nama Nabi seperti yang dilakukan Nabi selama itu. Zaid harus dinisbatkan kepada ayah kandungnya yaitu Haritsah. Jadi, Zaid bin Haritsah.
Ketika Zaid dewasa, Nabi menikahkannya dengan salah seorang muslimah kerabat Nabi. Ia bernama Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Tapi lagi-lagi, Zaid mendapatkan ujian kesabaran di momen ini.
Pasalnya, Zainab tidak ingin meneruskan pernikahan keduanya. Dan akhirnya, keduanya pun bercerai. Begitu pun ketika Nabi menjodohkannya dengan wanita lain, lagi-lagi ia ditolak.
Tentang perceraian Zaid dan Zainab inilah, nama Zaid tercantum dalam Al-Qur’an. Padahal, tak ada nama istri Nabi yang disebut, bahkan ibu beliau. Juga, tak ada satu pun nama sahabat Nabi yang disebut dalam Al-Qur’an. Tapi, nama Zaid ada (QS. Al-Ahzab: 37).
Terakhir, Nabi menjodohkannya dengan seorang muslimah yang begitu dekat dengan Nabi sejak Nabi masih kecil. Karena, muslimah itu sudah dianggap keluarga oleh ibu Nabi ketika beliau masih kecil. Ia adalah Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha.
Dari pernikahan ini, Allah memuliakan Zaid dengan kelahiran seorang putra. Anak itu diberi nama Usamah radhiyallahu ‘anhu. Kelak, ia menjadi seorang panglima perang termuda sepanjang sejarah Islam.
Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan betapa Rasulullah begitu menyayangi Zaid, meskipun ia sudah dewasa dan berkeluarga. Di hampir semua peperangan, selalu ada Zaid di sisi Nabi.
Bahkan, Nabi selalu mempercayakan Zaid sebagai panglima dalam perang-perang yang berskala kecil.
Zaid adalah dari sekian sahabat Nabi yang wafat sebelum Nabi wafat. Ia wafat di tahun kedelapan hijriyah atau 2 tahun sebelum Nabi wafat.
Zaid syahid dalam Perang Mu’tah melawan Romawi. Ia terbunuh di kawasan wilayah Syam, tepatnya di Yordania. Inilah kemuliaan lain yang Allah anugerahkan kepada Zaid radhiyallahu ‘anhu: wafat sebagai syuhada.
**
Hidup ini tidak datar. Seperti permainan jungkat-jungkit, adakalanya hidup ada di atas, dan adakalanya di bawah.
Bersyukurlah ketika Allah menganugerahkan kita nikmat, dan bersabarlah ketika cobaan dan kesusahan yang sedang kita dapatkan. Syukur dan sabar itu merupakan keistimewaan orang yang beriman. [Mh]




