DUNIA pendidikan kita hari ini sedang terjebak dalam ilusi kemajuan. Ruang kelas riuh oleh gawai, papan tulis digantikan layar interaktif, dan kurikulum digubah agar akrab dengan kecerdasan buatan (AI). Kita mendaulat ini sebagai era “Transformasi Digital.”
Namun, jika kita mengupas kulit luarnya, sebuah kenyataan pahit akan terpampang: sekolah-sekolah kita sebenarnya tidak sedang mendidik manusia. Mereka sedang bersaing dengan algoritma, dan celakanya, mereka memilih bertarung di medan yang pasti mereka kalahkan.
Paradoks ini bermula ketika indikator kecerdasan anak didik direduksi menjadi sekadar kecepatan memproses data, kemampuan menghafal formula, atau ketepatan menjawab soal-soal pilihan ganda berpola.
Ini adalah keahlian berbasis transmisi informasi linear. Ironisnya, di ruang digital, fungsi-fungsi tersebut telah diambil alih sepenuhnya oleh lini masa, mesin pencari, dan model bahasa besar (Large Language Models) yang bekerja ribuan kali lebih cepat daripada sinapsis otak manusia tercepat sekalipun.
Ketika sekolah memosisikan dirinya sebagai “pabrik pengolah data” tradisional, mereka otomatis masuk ke dalam jebakan algoritma. Kita melihat anak-anak dipaksa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menuntaskan beban kognitif tingkat rendah yang bisa diselesaikan oleh AI dalam hitungan detik.
Baca Juga: Layanan Keluarga Berencana Gratis Difokuskan pada Keluarga Kurang Mampu
Menolak Kalah dari Algoritma: Menggugat Arah Kompetisi Sekolah Kita
Sekolah-sekolah swasta elite memamerkan laboratorium komputer tercanggih dan aplikasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan sebagai jualan utama. Mereka bangga melatih murid menjadi “operator” yang patuh pada sistem digital.
Kita lupa satu hal fundamental: melatih manusia untuk bersaing dengan mesin dalam hal mekanis adalah bentuk degradasi kemanusiaan yang paling purba.
Dalam pandangan Islam, manusia tidak dimuliakan karena kemampuannya mengolah informasi, melainkan karena anugerah akal, hati, dan tanggung jawab moral yang menyertainya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang diberi pendengaran, penglihatan, dan hati untuk memahami makna kehidupan, bukan sekadar menjadi pengumpul data.
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78).
Ayat ini mengandung pesan yang sangat relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21. Pendengaran dan penglihatan merupakan instrumen untuk memperoleh pengetahuan, sedangkan hati (af’idah) berfungsi mengolah pengetahuan tersebut menjadi kebijaksanaan, nilai, dan kesadaran moral.
Kecerdasan buatan mungkin mampu mengumpulkan, menyimpan, dan memproses informasi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas, tetapi ia tidak memiliki hati nurani untuk menimbang makna, tujuan, dan konsekuensi etis dari pengetahuan yang dihasilkannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena itu, ketika sekolah hanya berfokus pada kemampuan teknis yang dapat direplikasi mesin, pendidikan sedang mengabaikan dimensi terdalam yang justru menjadi pembeda utama antara manusia dan algoritma.
Kehilangan “The Human Edge”
Dampak dari kompetisi keliru ini mulai terasa. Kurikulum yang terlalu berorientasi pada kompetensi teknis-digital demi memuaskan pasar kerja masa depan sering kali melupakan jangkar kemanusiaan murid. Kita melahirkan generasi yang fasih mengetik perintah (prompting), tetapi gagap merumuskan argumen moral.
Mereka tahu cara menavigasi mahadata (big data), tetapi asing dengan konsep empati sosial, ketahanan mental (grit), dan refleksi filosofis. Dalam tradisi pendidikan Islam, keberhasilan belajar tidak pernah diukur semata-mata dari penguasaan pengetahuan, tetapi juga dari kualitas akhlak yang lahir dari pengetahuan tersebut.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR. Ahmad). Karena itu, pendidikan yang menghasilkan individu cerdas tetapi kehilangan empati dan tanggung jawab moral sesungguhnya sedang kehilangan orientasi dasarnya.
Algoritma dirancang untuk menciptakan kepastian, efisiensi, dan keseragaman berdasarkan pola masa lalu. Sementara itu, esensi sejati dari pendidikan manusia adalah mengelola ketidakpastian, merayakan keunikan, dan menciptakan masa depan yang belum pernah ada polanya. Jika sekolah terus-menerus memfokuskan energinya untuk menyamai kecepatan dan efisiensi algoritma, kita sedang bersiap menyambut masa depan yang dipenuhi oleh robot-robot bernyawa, manusia yang pintar secara kalkulatif, namun mati secara eksistensial.
Membaca Ulang Kompas Pendidikan
Kita harus berani memutus rantai kompetisi konyol ini. Sekolah harus berhenti mencoba menjadi lebih “digital” daripada mesin. Alih-alih bersaing algoritma, sekolah harus kembali ke khitah sebagai ruang persemaian aspek-aspek yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh baris-baris kode biner.
- Pertama, restorasi kemampuan berpikir kritis tingkat tinggi (higher-order thinking). Sekolah bukan lagi tempat mencari jawaban, karena jawaban sudah ada di internet, melainkan tempat untuk merumuskan pertanyaan yang benar dan menggugat kemapanan berpikir.
- Kedua, radikalisasi pendidikan karakter. Kemampuan bekerja sama dalam keberagaman, mengelola kegagalan, dan memvalidasi kebenaran di tengah tsunami disinformasi adalah perisai utama manusia modern.
- Ketiga, reposisi peran guru. Guru tidak boleh lagi bertindak sebagai “pembagi konten”, melainkan sebagai mentor eksistensial, fasilitator empati, dan pemantik rasa ingin tahu.
Kita tidak bisa mematikan laju teknologi, dan menolaknya adalah tindakan naif. Namun, membiarkan institusi pendidikan didikte oleh logika algoritma pasar adalah bentuk bunuh diri kebudayaan. Sudah saatnya sekolah-sekolah kita keluar dari arena pacuan kuda digital dan kembali masuk ke dalam ruang batin manusia.
dKarena pada akhirnya, kemenangan pendidikan bukan diukur dari seberapa mirip anak didik kita dengan mesin, melainkan dari seberapa kokoh mereka mempertahankan kemanusiaan, akhlak, dan nurani di hadapan mesin. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi hanya manusia yang mampu memadukan ilmu, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Dalam bahasa Al-Qur’an, kemuliaan manusia terletak pada martabat yang dianugerahkan Allah kepada anak cucu Adam, bukan pada alat yang mereka kuasai.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْل
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70).
Maka pertanyaan mendasar yang harus dijawab pendidikan hari ini bukanlah bagaimana membuat manusia berpikir secepat mesin, melainkan bagaimana memastikan manusia tetap menjadi manusia di tengah dominasi mesin. Sebab, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling unggul dalam menghafal informasi, tetapi oleh mereka yang mampu menggunakan pengetahuan dengan kebijaksanaan, akhlak, dan tanggung jawab. Ketika algoritma terus berkembang, tugas pendidikan sesungguhnya adalah menjaga martabat manusia agar tidak ikut terdegradasi oleh kemajuan yang diciptakannya sendiri. [DW]
Ditulis Oleh: Nur Hidayat, S. Pd., M. Pd., M. Si (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar)





