DALAM sejarah Islam, banyak shahabiyah yang namanya tidak sepopuler Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Namun, mereka tetap memiliki peran penting dalam menyebarkan ilmu dan menjaga ajaran Rasulullah. Salah satunya adalah Al-Fari’ah binti Abu Asy-Syalt, seorang sahabat perempuan yang dikenal sebagai pribadi beriman, teguh memegang syariat, dan menjadi teladan dalam ketaatan kepada Allah. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari banyaknya harta atau popularitas, melainkan dari keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya.
Al-Fari’ah berasal dari kalangan Anshar di Madinah. Ia hidup di lingkungan keluarga yang mencintai ilmu dan memiliki hubungan erat dengan para sahabat Rasulullah. Dalam berbagai riwayat, namanya dikenal sebagai salah seorang perempuan yang meriwayatkan hadis langsung dari Nabi Muhammad. Hadis yang ia sampaikan kemudian menjadi rujukan penting dalam pembahasan hukum iddah bagi perempuan yang ditinggal wafat suaminya.
Baca Juga: Asma Binti Syakl Sahabiyah yang Tak Malu Belajar Agama
Keteguhan Al Fari’ah Binti Abu Asy Syalt yang Menginspirasi
Ujian yang dijalani dengan penuh ketaatan
Salah satu peristiwa paling terkenal dalam hidup Al-Fari’ah terjadi ketika suaminya wafat di luar Madinah. Saat itu ia datang kepada Rasulullah untuk meminta izin kembali ke rumah keluarganya karena khawatir tinggal sendirian. Pada awalnya Nabi mengizinkan, tetapi kemudian beliau memanggilnya kembali dan memerintahkan agar ia tetap menjalani masa iddah di rumah tempat ia menerima kabar wafat suaminya hingga masa empat bulan sepuluh hari selesai. Al-Fari’ah menerima keputusan tersebut dengan penuh kepatuhan tanpa membantah sedikit pun.
Ketaatan inilah yang membuat riwayatnya menjadi salah satu dasar penting dalam fikih Islam. Para ulama menjadikan hadis Al-Fari’ah sebagai dalil mengenai tempat seorang istri menjalani masa iddah setelah ditinggal wafat suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi seorang perempuan terhadap ilmu agama dapat memberi manfaat bagi umat hingga berabad-abad kemudian.
Teladan yang patut dicontoh
Ada beberapa pelajaran berharga dari kehidupan Al-Fari’ah binti Abu Asy-Syalt.
Pertama, mendahulukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski menghadapi situasi yang berat secara emosional, ia memilih mengikuti petunjuk Rasulullah daripada memperturutkan keinginannya sendiri.
Kedua, menjaga kesabaran saat diuji. Kehilangan pasangan hidup merupakan musibah yang sangat besar, tetapi Al-Fari’ah menunjukkan bahwa kesabaran akan melahirkan kemuliaan di sisi Allah.
Ketiga, semangat menyebarkan ilmu. Riwayat hadis yang ia sampaikan menjadi bukti bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penjaga ilmu dan penyampai sunnah Rasulullah kepada generasi berikutnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Al-Fari’ah mengingatkan kita bahwa setiap ujian dapat menjadi jalan menuju kemuliaan apabila dihadapi dengan iman dan ketaatan. Keteladanannya tetap hidup hingga hari ini melalui ilmu yang diwariskan dan akhlak yang layak dijadikan inspirasi bagi setiap muslimah. [DW]





