MANUSIA sering merasa dirinya kuat ketika hidup sedang berjalan sesuai harapan. Saat rezeki lancar, kesehatan terjaga, dan segala urusan terasa mudah, tanpa disadari hati mulai lalai. Waktu untuk mengingat Allah menjadi semakin sedikit, bahkan terkadang hanya tersisa di sela-sela kesibukan. Padahal, justru pada saat itulah seorang hamba sedang diuji. Bukan dengan kesulitan, melainkan dengan kenikmatan yang bisa membuatnya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan bahwa orang-orang yang memperoleh keyakinan kepada Allah akan memahami satu hal penting, yaitu jangan pernah meninggalkan Allah, walaupun hanya sekejap mata. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Sebab, ketika hati mulai jauh dari Allah, kehidupan yang tampak baik di luar bisa saja perlahan kehilangan keberkahan.
Baca Juga: Ketika Umar Ingin Mengalahkan Abu Bakar: Kisah Sedekah yang Menjadi Pelajaran Sepanjang Zaman
Walaupun Sekejap Mata, Jangan Pernah Meninggalkan Allah
Meninggalkan Allah bukan hanya berarti meninggalkan salat atau ibadah wajib. Terkadang seseorang tetap menjalankan ibadah, tetapi hatinya sibuk menggantungkan harapan kepada manusia. Ia lebih percaya pada kekuatannya sendiri, jabatan, harta, atau relasi yang dimiliki daripada pertolongan Allah. Saat itulah jarak antara dirinya dengan Rabb semakin melebar, meski secara lahiriah ia terlihat baik-baik saja.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah akan merasa takut jika hatinya berpaling walau sesaat. Ia sadar bahwa setiap detik hidupnya bergantung pada rahmat Allah. Tanpa pertolongan-Nya, manusia tidak akan mampu menjaga iman, menghindari dosa, bahkan tidak sanggup melakukan satu amal saleh pun.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya mengingat Allah ketika sedang menghadapi masalah. Ia juga terus berdzikir saat bahagia, bersyukur ketika memperoleh nikmat, dan memohon petunjuk ketika mengambil keputusan. Hubungan dengan Allah tidak dibangun berdasarkan situasi, tetapi menjadi kebutuhan yang terus menerus.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sering kali kita baru kembali mendekat kepada Allah setelah mengalami kegagalan atau musibah. Ketika usaha bangkrut, kesehatan menurun, atau kehilangan orang yang dicintai, barulah air mata mengalir dalam doa. Padahal, andai sejak awal hati selalu terhubung kepada Allah, mungkin kita akan lebih siap menghadapi setiap ujian yang datang. Hati yang dekat dengan Allah tidak menjadikan masalah terasa ringan, tetapi membuat seseorang lebih kuat dalam menjalaninya.
Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali mengingatkan bahwa Dia selalu bersama hamba-hamba yang bertakwa, bersabar, dan senantiasa mengingat-Nya. Kebersamaan inilah yang menjadi sumber ketenangan sejati. Tidak ada rasa aman yang lebih besar daripada mengetahui bahwa Allah selalu membersamai langkah seorang hamba.
Maka, jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa berdzikir. Jangan biarkan keberhasilan membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan doa. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, memperbaiki salat, dan menghadirkan hati ketika beribadah. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah jauh lebih berharga daripada semangat sesaat yang mudah hilang.
Hidup di dunia memang penuh dengan godaan yang dapat mengalihkan perhatian manusia. Namun, orang yang paling beruntung bukanlah mereka yang memiliki segalanya, melainkan mereka yang mampu menjaga hatinya agar tetap bersama Allah dalam setiap keadaan. Sebab ketika Allah selalu ada di dalam hati, maka apa pun yang terjadi di dunia tidak akan mampu menggoyahkan ketenangan jiwanya.
Semoga kita termasuk hamba yang tidak pernah merasa cukup jauh dari Allah, tetapi selalu berusaha kembali kepada-Nya, walaupun hanya dengan satu doa, satu dzikir, dan satu langkah kecil setiap hari. Karena sejatinya, kerugian terbesar bukan kehilangan dunia, melainkan kehilangan kedekatan dengan Allah walau hanya sekejap mata. [DW]
Sumber: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri





