FASHION designer asal China yang telah menetap di Prancis selama 16 tahun, Fengyuan Dai, menilai bahwa identitas seseorang terus berkembang seiring perjalanan hidup, pengalaman, dan lingkungan yang membentuknya. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers “L’Entre-Deux: Interwoven Identities”, kolaborasi antara Future Fashion Designer (FFD), PINTU Incubees, dan École Duperré Paris.
Dalam paparannya, Fengyuan menjelaskan bahwa kehidupan di era global membuat masyarakat dari berbagai negara semakin saling terhubung. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga membuat banyak orang mulai mempertanyakan bahkan kehilangan kedekatan dengan akar budaya mereka sendiri.
“I think, first, for the people to understand, sometimes we miss our culture, because actually we are living in the world, international world, everything is connected.”* ujar Fengyuan Dai.
Ia mengatakan bahwa identitas seseorang tidak hanya dibentuk oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai pengalaman hidup, mulai dari keluarga, pendidikan, budaya, hingga keyakinan yang dianut.
Fengyuan Dai, Fashion Menjadi Ruang Menemukan Identitas di Tengah Dunia yang Saling Terhubung
Sebagai seseorang yang lahir di China dan telah tinggal di Prancis selama 16 tahun, Fengyuan mengaku memiliki pengalaman pribadi dalam membangun identitas di tengah dua budaya yang berbeda.
“I was born in China and I live in France for 16 years, so I think sometimes we are always trying to construct ourselves from our education, our religion, sometimes all things around us.” katanya.

Menurut Fengyuan, tidak ada satu definisi tunggal mengenai identitas. Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu identitas dalam waktu yang sama, dan hal tersebut justru menjadi kekayaan yang patut dirayakan.
“Identity is fluid. Identity is contextual. You can be French. You’re also Chinese. You’re also a designer and you’re also seeking beauty. The message is that everybody can be anyone by themselves and their identity.”* ungkapnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema “L’Entre-Deux: Interwoven Identities” yang mengangkat pertemuan berbagai identitas budaya melalui bahasa fashion. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para desainer diajak mengeksplorasi bagaimana latar belakang budaya yang berbeda dapat saling terhubung dan melahirkan perspektif kreatif baru.
Konferensi pers ini merupakan bagian dari rangkaian program Future Fashion Designer (FFD) yang berkolaborasi dengan PINTU Incubees dan École Duperré Paris. Mengusung tema “L’Entre-Deux: Interwoven Identities”, program tersebut menjadi panggung kolaborasi internasional lintas generasi antara talenta Indonesia dan Prancis untuk mengeksplorasi titik temu budaya, di mana fashion menjadi media dialog dan pertukaran ide kreatif.
Future Fashion Designer (FFD) sendiri merupakan kompetisi desain busana yang ditujukan bagi lulusan maupun mahasiswa berlatar belakang sekolah mode. Program yang digagas oleh Susan Budihardjo bekerja sama dengan JF3 ini tidak hanya mencari desainer muda berbakat, tetapi juga memberikan pembinaan, program intensif, serta kesempatan bagi para finalis untuk menampilkan koleksi mereka di panggung internasional bersama desainer muda dari berbagai negara. [Din]




