• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, 8 Agustus, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Parenting

7 Inspirasi Mendidik Anak seperti Nabi (Bagian 2)

23/07/2026
in Parenting, Unggulan
Orangtua yang Enggak Tegaan

(foto: pixabay)

103
SHARES
796
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

TULISAN berikut ini merupakan kelanjutan dari artikel Inspirasi Mendidik Anak seperti Nabi yang dijelaskan oleh Penggiat dan Motivator Parenting, Rumah Pintar Aisha, Randy Insyaha.

baca juga: 7 Inspirasi Mendidik Anak seperti Nabi (Bagian 1)

7 Inspirasi Mendidik Anak seperti Nabi (Bagian 2)

5. Adil

“Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut.” (HR. Al-Baihaqi).

Dari An-Nu’man (bin Basyir), beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Ibu saya meminta hibah kepada ayah, lalu memberikannya kepada saya.

Ibu berkata, ‘Saya tidak rela sampai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas hibah ini.’

Maka ayah membawa saya –saat saya masih kecil- kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

‘Wahai Rasûlullâh, ibunda anak ini, ‘Amrah binti Rawahah memintakan hibah untuk si anak dan ingin engkau menjadi saksi atas hibah.’

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Wahai Basyir, apakah engkau punya anak selain dia?’ ‘Ya.’, jawab ayah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, ‘Engkau juga memberikan hibah yang sama kepada anak yang lain?’ Ayah menjawab tidak.

Maka Rasûlullâh berkata, ‘Kalau begitu, jangan jadikan saya sebagai saksi, karena saya tidak bersaksi atas kezhaliman.’ “ (HR. al-Bukhâri).

“Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” (HR. Bukhari)

Ketidakadilan orang tua kepada anak adalah bom waktu. Bom waktu bagi orang tuanya dan juga bom waktu bagi anak-anaknya.

Bagi orang tua, anak yang merasa diperlakukan tidak adil, mereka akan enggan berbakti kepada kedua orang tuanya. Rasa kasih sayang dan cintanya luntur. Mereka tidak akan peduli dengan orang tuanya.

Mereka merasa tidak disayangi, tidak dicintai, dibedakan, dianaktirikan. Mereka tidak akan peduli lagi kepada orang tuanya.

Lalu tujuan menjadikan anak yang sholeh, yang mendoakan kedua orang tuanya, yang berbakti dan menyayangi kedua orang tuanya, yang memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya tidak akan terwujud.

Inilah dampak dari ketidakadilan orang tua kepada anak-anaknya.

Lalu bom waktu yang kedua adalah antar anak-anaknya. Anak yang diperlakukan tidak adil akan merasa benci, dendam, iri kepada saudaranya.

Dampaknya, anak-anak ini akan saling bermusuhan. Hingga dewasa pun mereka akan saling bermusuhan satu dengan yang lain.

Sampai saat mereka sudah berkeluarga tetap tak berhenti permusuhannya hingga merembet ke anak dan cucu. Apakah seperti ini keluarga yang berkah itu. Antar saudara saling memutus tali silaturahmi.

Kalau sudah begini, mungkinkan mimpi kita masuk surga sekeluarga, ada ayah, bunda, anak-anak bisa diwujudkan.

Ketidakadilan itu melahirkan kebencian anak kepada orang tuanya dan kebencian anak kepada saudaranya.

6. Membantunya untuk taat

“Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya untuk berbakti kepada mereka.” (HR.Ibnu Hibban).

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah senantiasa memberi rahmat pada orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

Orang-orang di sekeliling Beliau bertanya, “Bagaimana cara orang tua membantu anaknya berbakti, ya Rasulullah?”

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, ”Mereka menerima yang sedikit dari anaknya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebani anaknya, dan tidak memaki anaknya.”

Ajarilah, permudahlah, dan jangan persulit! Gembirakanlah, dan jangan takut-takuti!

“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah berdiam diri”. (H.R. Ahmad dan Bukhari)

Menerima yang sedikit itu misalnya hasil ujian anak nilainya 70. Kita terima nilai 70 itu, meskipun kita ingin nilai anak misalnya 100 atau 90.

Atau dalam pikiran kita aduuh soal mudah gini kok cuma dapat 70. Nggak apa-apa, diterima dulu, disyukuri dulu katakan kepada anak “Alhamdulillah nak, dapat nilai 70, ini bagus banget, insha Allah ujian selanjutnya Bunda yakin, kakak akan mendapatkan nilai 100”.

Jadi ketika anak belum sesuai target diterima saja dulu. Bikin ia senang dan beri motivasi agar lebih semangat mencapai target yang lebih tinggi lagi.

Jadi kita terima hasil nilai 70 itu agar potensinya muncul sehingga mampu meraih nilai 100. Terima yang ada dulu agar kekuatan potensinya semakin muncul.

Jangan sampai anak mendapatkan nilai 70 lalu dicela, dimarahi, diremehkan, direndahkan nanti anak tidak lagi percaya diri, rendah diri, merasa tidak mampu. Lalu bagaimana potensi yang sebenarnya itu bisa muncul.

Memaafkan yang menyulitkannya misalnya hafalan Al Qur’an. Biasanya setiap hafalan anak bisa menghafal minimal 3 baris.

Tapi entah kenapa, kali ini kok susah banget ya, hingga membuat jengkel orang tua. Jadi kita perlu memaafkan anak saat sedang sulit. Maafkan saja.

Katakan “baik Nak, sementara cukup dulu ya, besok kita ulang, sekarang kamu main dulu sana”. Jadi enggak perlu marah karena tidak sesuai target.

Maafkan saja mungkin karena lagi badmood, mikirin pelajaran yang lain, mikirin kejadian di sekolah dll.

Nabi sendiri tidak membebani sahabatnya itu sama, setiap sahabat punya kelebihannya masing-masing. Nabi membebani sahabat sesuai dengan kelebihannya masing-masing.

Misalnya beban Khalid, Umar, Abu Hurairah, Bilal, itu jelas berbeda. Disesuaikan dengan kelebihannya masing-masing. Khalid diberi beban untuk menjadi komandan perang pasukan muslim.

Abu Hurairah diberi tugas untuk menghafalkan setiap hadits. Bilal dengan suaranya yang merdu dan indah diberi tugas sebagai muadzin.

Umar dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya digadangkan sebagai Khalifah.

Maka jika misal anak lemah pada satu sisi jangan dibebani terlalu berat. Jika anak misalnya lemah di bidang Matematika, jangan dipaksa terus belajar Matematika sehingga menjadi beban.

Cukup semampunya saja, atau minimal jadikan anak menjadi rata-rata di pelajaran matematika tetapi jadikan anak yang terbaik di bidang yang menjadi kelebihan anak.

Anak masih memiliki kebiasaan buruk, terima dulu. Bukan berarti diabaikan atau dibiarkan. Diterima itu artinya ridho dulu dengan kondisi anak karena sudah menjadi takdir-Nya.

Lalu pelan-pelan kita lakukan perbaikan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Raulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Semoga Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.

Juga, diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Barang siapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.

7. Menunaikan hak anak

Hati-hati dengan hak anak. Misal anak membawa roti dari sekolah. Kebetulan temannya ulang tahun. Kita meskipun orang tuanya tidak serta merta langsung memakan roti milik anak.

Roti itu milik anak, jika kita ingin memakannya, kita harus meminta izin terlebih dahulu. Termasuk menghargai anak adalah menghargai juga hak anak.

Jangan salah, kita seringkali menghargai anak orang lain tetapi tidak menghargai anak sendiri.

Misal kita meminta anak untuk meminjamkan mainan kepada temannya. Anak kita tidak mau eh anak sendiri malah dimarahi, hanya gara-gara anak tidak mau meminjamkan mainannya.

Jadi hargai keputusan anak. Mainan itu adalah miliknya, jika anak tidak mau meminjamkan ya kita harus menghargainya. Katakan kepada anak teman kita dengan bahasa yang baik.

Misalnya lagi, anak kita punya makanan pemberian dari temannya, adiknya minta tetapi kakaknya ini tidak mau berbagi.

Orang tua tidak boleh memaksa karena makanan ini miliknya. Orang tua boleh membujuk tetapi tidak boleh memaksa. Hargai kepemilikannya.

Lalu Ayah, Bunda bertanya kan anak harus diajari untuk berbagi. Ya betul anak harus diajari untuk berbagi tetapi bukan sekarang kan, bukan saat itu juga kan.

Insha Allah, di waktu yang lain kita memahamkan dan mengajari anak untuk berbagi. Heh, ayo kakak mengalah, kasihkan mainan ke adik, padahal mainan itu punya kakak.

Ayo kakak harus berbagi sama adik, ayo cepat bagi sama adik, padahal punya kakak. Kalau adiknya menangis ya enggak apa-apa. Adik harus belajar juga untuk tidak memaksakan keinginannya.[ind]

 

Tags: 7 Inspirasi Mendidik Anak seperti Nabi (Bagian 2)
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Walaupun Sekejap Mata, Jangan Pernah Meninggalkan Allah

Next Post

Fengyuan Dai, Fashion Menjadi Ruang Menemukan Identitas di Tengah Dunia yang Saling Terhubung

Next Post
Fengyuan Dai, Fashion Menjadi Ruang Menemukan Identitas di Tengah Dunia yang Saling Terhubung

Fengyuan Dai, Fashion Menjadi Ruang Menemukan Identitas di Tengah Dunia yang Saling Terhubung

Persoalan Shalat Jumat di Sekolah

Membaca Ta'awudz Sebelum Al Fatihah di dalam Shalat

Arron Bryan Fernaldy Wongso Tak Menyangka Jadi Juara Future Fashion Designer 2026, Siap Tampilkan Koleksi Baru

Arron Bryan Fernaldy Wongso Tak Menyangka Jadi Juara Future Fashion Designer 2026, Siap Tampilkan Koleksi Baru

  • 5 Ide Kreasi Camilan Simpel dengan Rice Paper yang Renyah dan Lezat

    5 Ide Kreasi Camilan Simpel dengan Rice Paper yang Renyah dan Lezat

    478 shares
    Share 191 Tweet 120
  • Ashanty, Anang dan Azriel Rayakan Wisuda Bersama di Universitas Airlangga

    4370 shares
    Share 1748 Tweet 1093
  • 5 Objek Wisata Terbaik di Cilacap

    209 shares
    Share 84 Tweet 52
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9059 shares
    Share 3624 Tweet 2265
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    635 shares
    Share 254 Tweet 159
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4102 shares
    Share 1641 Tweet 1026
  • Taman Rekreasi Waterboom Jogja Tawarkan Promo Kemerdekaan

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • 5 Tempat Camping Keluarga di Bogor yang Sejuk, Seru, dan Ramah di Kantong

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1173 shares
    Share 469 Tweet 293
  • Simak Perbedaan Veneer dan Bleaching Gigi yang Cocok buat Kamu

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga