HUMOR merupakan bagian dari interaksi manusia yang dapat menciptakan suasana nyaman dan mempererat hubungan sosial. Dalam konteks pendidikan dan pembinaan umat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan bahwa senda gurau yang sehat dapat digunakan sebagai sarana komunikasi yang efektif, selama tetap berada dalam batas kewajaran dan nilai kebenaran.
Senda gurau yang dilakukan secara tepat mampu menghadirkan suasana yang kondusif dalam ruang belajar, halaqah, maupun pertemuan lainnya.
Humor yang sehat dapat mengurangi kejenuhan dan ketegangan yang dirasakan oleh peserta, sehingga mereka lebih siap menerima pelajaran.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanfaatkan humor sebagai selingan yang meringankan suasana, tanpa mengalihkan perhatian dari tujuan utama pembelajaran atau pesan yang hendak disampaikan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Namun demikian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan pentingnya menjaga batas dalam bercanda.
Humor yang berlebihan dapat menghilangkan kewibawaan dan mengurangi nilai manfaat dari sebuah majelis ilmu.
Oleh karena itu, senda gurau tidak dijadikan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana pendukung agar proses penyampaian ilmu dan nasihat tetap berjalan secara efektif dan bermakna.
Teladan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan bahwa humor harus berlandaskan kejujuran dan kebenaran. Dalam beberapa riwayat, beliau bercanda dengan para sahabat menggunakan ungkapan yang benar secara makna, meskipun disampaikan dengan cara yang ringan dan mengundang senyum.
Rasulullah Mengajarkan Kita untuk Memiliki Jiwa Humor yang Sehat
Diceritakan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata, “Ya Rasulallah, bawalah aku.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Aku akan membawamu di atas anak unta.”
Lelaki itu bertanya (penuh heran), “Bagaimana aku akan dibawa oleh seekor anak unta?”
Kemudian Nabi menjawab, “Bukankah unta itu dilahirkan dalam bentuk anak
unta?”
Candaan tersebut tidak mengandung kebohongan, tidak menyakiti perasaan, serta tidak merendahkan martabat orang lain.
Dalam kisah lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menunjukkan kepekaan emosional ketika bercanda.
Ketika candaan berpotensi disalahpahami, beliau segera memberikan penjelasan agar tidak menimbulkan kesedihan.
Baca juga: 4 Cara Mengendalikan Diri saat Marah ala Rasulullah
Dalam sebuah riwayat diceritakan, seorang nenek datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar saya dimasukkan kedalam surga.”
Rasulullah menjawab, “Wahai nenek sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh orang-orang tua.”
Hasan berkata, “Nenek itu pergi sambil menangis.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Beritahulah kepadanya bahwa dia tidak akan masuk surga dalam kondisi nenek-nenek.”
Ketika itu juga disampaikan firman Allah yang berbunyi:
اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ ٣٥
فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ ٣٦
عُرُبًا اَتْرَابًاۙ ٣٧
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqiah: 35-37).
Hal ini mencerminkan bahwa humor yang sehat selalu disertai dengan empati dan tanggung jawab moral.
Secara keseluruhan, teladan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bersenda gurau mengajarkan bahwa humor dapat menjadi bagian dari metode pendidikan dan komunikasi yang humanis.
Humor yang sehat, jujur, dan proporsional mampu menciptakan suasana yang nyaman, mempererat hubungan, serta mendukung tercapainya tujuan pembelajaran dan pembinaan umat.[Sdz]





