LEBARAN dan liburan sejatinya dua hal yang berbeda. Sayangnya, tidak sedikit yang salah kaprah.
Indonesia tergolong negara yang memberikan kemudahan warganya untuk berlebaran. Sekitar tujuh hari kerja berubah menjadi cuti bersama demi untuk kemudahan itu.
Selain itu, negara juga mewajibkan para pengusaha untuk memberikan THR atau uang gaji tambahan khusus untuk merayakan Lebaran. Besarannya bahkan sampai satu bulan gaji.
Betapa enaknya. Sudah dapat bonus liburan seperempat bulan kerja, dapat uang gaji tambahan pula.
Memang, ada ‘berkah’ tersendiri dari kebijakan nasional itu. Yaitu, terjadinya perputaran ekonomi ‘dadakan’ yang menjangkau daerah-daerah nun jauh dari perkotaan. Dan hal itu juga membantu program pemerataan ekonomi pemerintah.
Bedakan Lebaran dan Liburan
Masyarakat kita hampir sulit membedakan antara Lebaran dan liburan. Keduanya menjadi campur aduk. Hal inilah yang menjadikan kita menjadi salah kaprah dengan Lebaran.
Lebaran sejatinya momen nasional untuk menjalin tali silaturahim ke seluruh pelosok negeri. Tergantung dari mana asal warga kota yang bersangkutan. Karena lebih dari 60 persen warga kota di Indonesia berasal dari kampung dan desa.
Lebaran bernilai religius. Yaitu, sebuah kunjungan ke sanak kerabat tanpa ada kepentingan apa pun kecuali mengharapkan ridha Allah.
Mereka datang berkunjung ke sanak kerabat di desa, menetap beberapa hari di sana, berbagi rezeki dan pengalaman, saling mendoakan, dan seterusnya.
Sementara liburan, merupakan kegiatan wisata. Mereka mendatangi tempat-tempat wisata, berlibur di sana, dan seterusnya.
Jadi, antara Lebaran dan liburan memiliki garis batas yang jelas. Berlebaran mungkin saja butuh biaya besar, tapi pengalokasiannya proporsional dan bernilai sedekah.
Sementara liburan, anggarannya juga besar tapi pengalokasiannya tak jelas tergantung pada ‘nafsu’ berbelanja dan senang-senang.
Apa tidak boleh memanfaatkan momen Lebaran untuk liburan?
Tentu boleh-boleh saja. Tapi, prioritasnya jangan diputar balik. Yang utama itu berlebaran yaitu kunjungan silaturahim ke sanak kerabat. Bukan liburan yang merupakan kunjungan ke termpat-tempat wisata.
Sebenarnya, melakukan kegiatan liburan di saat momen Lebaran bisa tergolong pemborosan. Hal ini karena antara modal yang dikeluarkan jauh dari apa yang didapatkan. Selain karena menjadi serba mahal, berlibur di saat Lebaran menjadi tidak efektif: macet, bising, dan sangat melelahkan.
Sebaiknya, fokus memanfaatkan momen Lebaran untuk semata-mata bersilaturahim ke sanak kerabat. Kecuali, sekadar berkeliling di sekitar lingkungn desa yang juga bagian dari kegiatan silaturahim.
Kalau ingin berlibur, carilah di waktu yang lain. Selain biayanya lebih murah, suasana liburan pun jauh lebih kondusif.
Ajari Keluarga Berlebaran yang Baik
Tanpa sadar, kita sedang mengajarkan sesuatu yang salah kepada anak-anak tentang makna Lebaran yang berubah menjadi liburan.
Hal ini bisa berdampak serius. Karena objek dan nuansanya sangat berbeda. Berlebaran itu tinggal di rumah-rumah kampung yang sederhana. Sementara liburan tinggal di tempat-tempat mewah seperti hotel, vila, dan sejenisnya.
Jika anak-anak terkondisikan dengan niat liburan di momen Lebaran, maka mereka akan tidak kerasan tinggal di pondok-pondok sederhana rumah kakek nenek atau paman bibi.
Dan, yang menjadi harapan utama mereka saat pulang kampung adalah berkunjung ke tempat-tempat wisata. Di sinilah fatalnya. Nuansa Lebaran menjadi pemanis dan pelengkap saja dari acara wisata yang juga tidak efektif.
Lebih parah lagi, keluarga menghabiskan begitu banyak waktu liburan untuk sekadar berwisata, bukan bersilaturahim.
Hati-hati mengajarkan anak-anak dan keluarga tentang makna Lebaran dan pulang kampung. Jangan kesankan kepada mereka bahwa itu kegiatan wisata, melainkan perjuangan untuk bersatu lagi bersama keluarga besar.
Ajari mereka tentang siapa leluhur mereka, karakter dan budaya, dan tentu saja nilai-nilai positif suasana kampung dan desa. [Mh]


