LEBARAN menjadi kata yang begitu favorit di penghujung Ramadan. Semua orang ngomongin.
Secara fikih, mungkin saja Lebaran menjadi tanda akhir dari kewajiban berpuasa. Tapi Lebaran ternyata bukan sebatas fikih. Jauh lebih luas dari itu.
Jadi, Kemenag RI dengan Sidang Isbatnya tak perlu merasa ge-er karena menjadi pusat perhatian seluruh Indonesia. Bukan tentang Kemenagnya, bukan pula tentang Sidang Isbatnya, tapi tentang kapan Lebarannya.
Karena di balik kata yang mungkin hanya ada di Indonesia itu, menyimpan segudang dinamika lain yang sangat sentral.
Pertama, kata itu menjadi peristiwa besar Bangsa Indonesia.
Bukan hari proklamasi yang dianggap besar oleh warga Indonesia. Tapi, hari Lebarannya. Tak banyak orang yang begitu perhatian proklamasi jatuh pada hari apa. Begitu bertepatan dengan hari Ahad, tak banyak lagi orang yang ingat kalau itu sebagai hari besar bangsa ini.
Dan untuk hari Lebaran, orang tak lagi memperhatikan tanggal merahnya. Yang penting kepastian kapannya.
Kedua, sebagai peristiwa ‘hidup mati’ umumnya keluarga Indonesia.
Di satu kata sederhana bernama Lebaran itu ada begitu banyak kegiatan keluarga. Ada tentang persiapan dapur, busana, penganan Lebaran, ritual pulkamp, hubungan domestik antar anggota keluarga, dan lainnya.
Kita akan seolah tidak lagi merasakan sebagai ‘orang Indonesia’ ketika makna Lebaran seperti tak lagi ada dalam diri kita. Kita menjadi warga asing yang tinggal di kampung Indonesia.
Ketiga, sebagai titik tolak dari hampir semua kesibukan orang Indonesia.
Tak pernah ada Jakarta lengang, kecuali di hari Lebaran. Ketika dalam suasana lengang itu, barulah orang menyadari bahwa Jakarta tak lebih dari sekadar sebuah persinggahan warga kampung Indonesia.
Itu pun karena sebagian warga Jakarta masih juga kampung yang disebut warga Betawi. Kalau tidak, Jakarta bisa dibuka-tutup karena penghuninya sedang berlebaran di kampung halaman.
Itulah Lebaran untuk orang Indonesia. Jangan heran jika hanya di Indonesia SIdang Isbat begitu penting dan menjadi pusat perhatian nasional. Sekali lagi, bukan karena peristiwa fikihnya. Melainkan karena peristiwa budayanya.
Fenomena ini tak akan pernah ditemukan di negeri mana pun. Arab Saudi misalnya, tak merasa perlu untuk rame tentang Sidang Isbat. Karena, ujungnya hanya tentang kapan berakhirnya puasa.
Di negeri mana pun, tak ada yang menganggap penting tentang Lebaran itu. Negeri-negeri muslim lebih mengenal istilah Ramadan Karim. Bukan ‘Kapan Lebaran’.
Selamat merayakan Lebaran. Semoga Allah selalu memberkahi kehidupan bangsa Indonesia. [Mh]


